Selasa, 10 Januari 2017

Nikmat dan Syukur

Hari ini membaca FB status kawan saya, Aris Nurbawani, yang sangat insipatif.

"Besarnya nikmat itu ada pada rasa syukurnya", katanya.

Kita sering mendengar orang dengan kekayaan melimpah, namun dia masih korupsi. Orang dengan istri yang cantik, namun masih selingkuh.

Mengapa, mengapa, mengapa?

Rumah tiga lantai, penghasilan 100 juta perbulan termasuk kecil?

Bagi mereka yang ada di posisi itu, maka rumah tiga lantai adalah nikmat kecil, yang nikmat besar itu rumah 100 lantai. Penghasilan 100 juta itu kecil, yang besar penghasilan 1 Miliar perbulan.

Orang boleh mempunyai obsesi, namun obsesi yang tidak disertai rasa syukur hanya akan melahirkan kerakusan. Dan bahaya orang rakus adalah menghalalkan segala cara.

Hadirnya rasa syukur dalam hatimu akan mengajakmu untuk mengejar obsesi, namun hanya pada jalan yang halal saja, karena apa yang dikaruniakan padamu kamu nikmati, kamu hargai, kamu syukuri sebagai pemberian Allah.

Bahkan di sisi sana, ada seorang yang bagimu mempunyai rejeki yang amat sedikit, namun dia tetap berbahagia karena rasa syukur yang ada dalam hatinya.

Kemarin saya bertemu dengan seseorang wanita yang sudah agak tua ditempat saya membeli rujak. Dalam sebuah pembicaraan dia mengatakan, bahwa dalam setiap penen, jika dia sudah mempunyai tiga karung gabah saja dia sudah merasa bahagia. Tiga karung sudah cukup untuk hidup sampai masa panen berikutnya. Kalau soal lauk, nanti apa sajalah, kates dioseng begitu saja sudah jadi lauk.

Jadi benar apa kata kawan saya itu, besarnya nikmat ada pada rasa syukurnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Artikel mungkin sudah tidak up to date, karena perkembangan jaman. Lihat tanggal posting sebelum berkomentar. Komentar pada artikel yg usianya diatas satu tahun tidak kami tanggapi lagi. Terimakasih :)