Jumat, 01 Desember 2017

Ngopi Bareng antar Penggemar Komputer


Kemarin malam adalah hari yang sangat membahagiakan bagi saya. Bertiga berkumpul di kafe Pandawa di Durenan. Tidak tanggung-tanggung, ngobrol dari  jam 8 sampai jam 12 malam.

Ketiga orang itu ya saya sendiri, Edy Santoso, Eko Priyanto, dan Abid Famasya.

Kami bertiga pernah bertemu secara maya, dalam Komunitas Blogger Trenggalek sekitar april 2009.  Waktu itu, Abid malah masih duduk di bangku SMP.

Minggu lalu, Abid memention saya dan Cak Eko di Twitter, gimana kalau ketemuan, hampir sepuluh tahun Abid belum pernah ketemu darat. Bahkan sampai dia sudah lulus PENS dalam bidang Teknik Informatika.

Malam ini kami bertiga ngobrol sepuasnya. tentang PHP, Python, Java Script, Reach, Electron, AppJS, Android dan berbagai macam topik dalam bidang Pemrograman. Maklum kami bertiga hobi pemrograman.

Ini pertemuan pertama, nanti kita akan ketemu lagi :)

Rabu, 15 November 2017

Belajar Optimis dari Seorang Pedagang Kambing

Hari itu, sambil menunggu anak saya yang opname, saya sengaja makan dan ngopi di warung. Memesan makanan seadanya dan segelas kopi panas.

Didepan saya nampak seorang yang sedang ngopi juga, bakul kambing. Saya tahu dari motor yang terparkir di depan, dengan gerobak yang berisi seekor kambing di belakang.

Biasa, sambil ngopi kita ngobrol basa-basi tentang cuaca, biaya sekolah dan lainnya.

"Alhamdulillah, hari ini bawa enam kambing, dan laku lima", katanya dengan senang. 

Dan sampailah pembicaraan pada topik yang menarik.

Dia bercerita dengan sedikit bangga, bahwa anaknya sekolah di Teknik Sipil Universitas Brawijaya. Saya bisa memahami, seorang bakul kambing yang anaknya sekolah di Universitas Favorit. Sama dengan ketika ayah saya memasang photo wisuda saya berukuran besar di ruang tamu. Meskipun saya tidak nyaman, namun saya biarkan, karena itulah kebanggaannya. Dia merasa itulah puncak perjuangannya.

Awal pembicaraan itu membuat saya agak tertarik, karena 6 tahun lagi anak saya akan kuliah. Dengan biaya kuliah seperti sekarang ini, nampaknya menguliahkan anak bukan sesuatu yang mudah.

"Habis berapa kalau masuk teknik Sipil?", tanyaku.

"Nggak bayar mas. Anak saya ini dulu sering rangking 2 di STM. Dia Ikut UMPTN". Hmmm, SMBPTN mungkin maksudnya.

"Ini adalah sesuatu yang tidak pernah saya bayangkan. Masak bakul wedus bisa menguliahkan anak", katanya setengah tidak percaya.

Lalu dia menceritakan tentang kuliah di Malang. Biaya bulanan yang selalu dia kirimkan tiap bulan sejuta. 500 ribu buat biaya kos, 500 ribu buat biaya hidup.

"Jadi saya ini tiap bulan harus dapet dua juta, sejuta buat anak kuliah, sejuta buat yang dirumah. Kalau tidak hujan seperti ini saya selalu keliling dari pasar hewan satu ke pasar ehwan yang lain".

"Alhamdulillah, anak saya ini sejak sekolah tidak neko-neko mas. Mungkin paham bapaknya hanya seorang bakul wedus (pedagang kambing)", ucapnya dengan rasa syukur.

Hidup memang tidak linear, dan mimpi adalah hak setiap orang, bahkan yang tidak pernah memimpikannya sekalipun.

Selasa, 22 Agustus 2017

Pengalaman adalah Guru Terbaik

Pengalaman adalah Guru Terbaik. Ungkapan lama yang sering kita dengar, namun tak banyak orang paham dengan ungkapan ini.

Akibatnya, sistem pendidikan kita sebagian besar masih mengandalkan kelas dimana sebagian besar cara mengajarnya dengan mencatat dan ceramah guru. Akibatnya anak-anak kita belajar sangat lama, SD 6 tahun, SMP dan SMA masing-masing 3 tahun, namun tidak terlalu banyak yang bisa diperoleh untuk menyiapkan mereka belajar hidup dan kehidupan.

Teori tidak cukup membuat orang langsung bisa mempraktekkan sesuatu.  Contoh sederhananya, kamu belajar renang. Beli buku tentang renang, lihat orang renang, belajar gaya renang di youtube. Setelah kamu merasa paham benar, coba kamu terjun langsung ke air. Apa yang terjadi?

Setelah kamu masuk ke air beberapa waktu, kamu mulai bisa berenang, dan kamu baru mulai bisa mempraktikkan teori-teori yang kamu pelajari. Dan kamu baru bisa dinamakan profesional bila jam terbangmu sudah mencapai 10.000 jam.

Kamu jadi tahu, mengapa dulu ketika kamu diminta untuk memberikan sambutan untuk pertama kalinya, semua yang kamu siapkan mendadak hilang dari kepalamu. Nah, itulah ...

Jika kamu ingin belajar menjadi pemimpin, jangan hanya dengan ikut Training Kepemimpinan kamu merasa sudah cukup. Untuk memahaminya, paling tidak kamu harus terlibat dalam kepengurusan di organisasi. Ketua RT jauh lebih paham arti kepemimpinan dibandingkan alumni LKMM menengah di kampus.

Inget kata kawan saya. Fajarwanto, di forum WA, ketika melakukan sesuatu untuk pertama kalinya, semua teori seakan salah semua. Nah.