Senin, 13 Maret 2017

Internet: Kita Butuh Platform Baru

Saya termasuk generasi yang hidup pada jaman pra internet sampai era booming internet saat ini. Tahun 1999/2000 saya harus antri di warnet elektro, warnet pertama di ITS yang leletnya minta ampyun. Namun bagaimana lagi, karena adanya hanya itu, dan karena kita masih terkagum-kagum dengan jendela ajaib itu.

Era keemasan internet ada pada masa blog. Sebuah media pribadi yang ditulis oleh personal dan dipublikasikan di internet.


Saat itu semua berlomba memberi, berbagi informasi dan tips untuk orang lain. Dari berbagai latan belakang, disiplin ilmu, bahkan dari pengalaman hidup sehari-hari. Saya banyak belajar linux, pemrograman, bahkan kehidupan hal dari para blogger ini.

Era kemunduran internet adalah setelah Google hadir dan memberikan kesempatan kepada setiap blogger untuk mendapatkan bagian kue iklan dari iklan yang dititipkan pada konten blog. Akhirnya terjadilah  pergeseran idealisme, dari yang semula untuk berbagi dan menunjukkan kompetensinya menjadi sekedar untuk mencari receh.

Munculnya social media yang semula bisa dianggap sebagai jembatan silaturahim, malah pada akhirnya menjadi alat penebar kebencian dan propaganda. Apalagi sejak FB memberi fitur share,banyak orang membagikan hoax dan kebencian kepada orang lain. 

Saya pesimis,bahwa social media, akan semakin bisa membawa ummat manusia kedepan. Kita memerlukan platform lain dalam berinternet, yang bisa mendorong manusia dalam kemajuan.

Minggu, 12 Februari 2017

Untuk Menjadi Besar Tidak Perlu Mengecilkan Orang Lain

Dalam hal apapun, untuk menjadi besar bekal yang kita gunakan adalah berbuat kebaikan dan mengukir prestasi sebaik-baiknya, dan sebanyak-banyaknya. Itulah jalan terbaik. Biarlah orang melihat karya kita, dan biarkan dia menilainya sendiri.

Seandainya kita tetap kecil, itu bukan kesalahan orang lain, namun karena kita kurang maksimal dan bersungguh-sungguh dalam mengukir prestasi kita.

Ada orang yang ingin menjadi besar dengan cara semu, dengan mengecilkan orang lain. Padahal itu pantangannya. Mengecilkan orang lain membuat diri kita terbuai dalam dunia semu. Kacamata kita melihat diri kita besar, padahal semua orang melihat diri kita kecil.

Untuk menjadi besar kita tidak perlu mengecilkan orang lain.
Untuk menjadi baik kita tidak perlu menjelekkan orang lain.
Untuk menjadi kaya kita tidak perlu memiskinkan orang lain.
Untuk masuk surga kita tidak perlu memasukkan orang lain ke neraka.

Cukup menjadi diri sendiri dan berbuat dan berkarya sebaik-baiknya

Rabu, 18 Januari 2017

Belajarlah Pada Langit



Hari ini, di medsos semua orang mengklaim bahwa dirinyalah yang paling mencintai NKRI, paling nasionalis, paling toleran.

Di kehidupan nyatapun demikian, tak sedikit orang yang seakan menepuk dada. Ini karya saya, ini karena saya, ini prestasi saya, besar karena saya, dia seperti sekarang berkat bantuan saya.

Ini penyakit, kawan. Dalam kacamata dunia, segala sesuatu itu terjadi atas kerja banyak variabel, dan  mungkin kita salah satu sebabnya. Dalam kacamata akhirat, sesuatu hanya bisa terjadi atas kehendak dan izin Allah SWT.

Kita tidak perlu mengatakan bahwa kita ini mempunyai kebaikan, kelebihan, bahkan menjadi sebab keberhasilan. Lebih baik kita bekerja sebaik-baiknya sesuai posisi kita saat ini,dan biarkan orang lain dengan persepsinya.

Seperti kata kawan saya , bahwa "Langit tidak perlu menjelaskan bahwa ia tinggi" .

Jawablah keragu-raguan dengan kesungguhan dan karya. Belajarlah pada langit.