Minggu, 12 Februari 2017

Untuk Menjadi Besar Tidak Perlu Mengecilkan Orang Lain

Dalam hal apapun, untuk menjadi besar bekal yang kita gunakan adalah berbuat kebaikan dan mengukir prestasi sebaik-baiknya, dan sebanyak-banyaknya. Itulah jalan terbaik. Biarlah orang melihat karya kita, dan biarkan dia menilainya sendiri.

Seandainya kita tetap kecil, itu bukan kesalahan orang lain, namun karena kita kurang maksimal dan bersungguh-sungguh dalam mengukir prestasi kita.

Ada orang yang ingin menjadi besar dengan cara semu, dengan mengecilkan orang lain. Padahal itu pantangannya. Mengecilkan orang lain membuat diri kita terbuai dalam dunia semu. Kacamata kita melihat diri kita besar, padahal semua orang melihat diri kita kecil.

Untuk menjadi besar kita tidak perlu mengecilkan orang lain.
Untuk menjadi baik kita tidak perlu menjelekkan orang lain.
Untuk menjadi kaya kita tidak perlu memiskinkan orang lain.
Untuk masuk surga kita tidak perlu memasukkan orang lain ke neraka.

Cukup menjadi diri sendiri dan berbuat dan berkarya sebaik-baiknya

Rabu, 18 Januari 2017

Belajarlah Pada Langit



Hari ini, di medsos semua orang mengklaim bahwa dirinyalah yang paling mencintai NKRI, paling nasionalis, paling toleran.

Di kehidupan nyatapun demikian, tak sedikit orang yang seakan menepuk dada. Ini karya saya, ini karena saya, ini prestasi saya, besar karena saya, dia seperti sekarang berkat bantuan saya.

Ini penyakit, kawan. Dalam kacamata dunia, segala sesuatu itu terjadi atas kerja banyak variabel, dan  mungkin kita salah satu sebabnya. Dalam kacamata akhirat, sesuatu hanya bisa terjadi atas kehendak dan izin Allah SWT.

Kita tidak perlu mengatakan bahwa kita ini mempunyai kebaikan, kelebihan, bahkan menjadi sebab keberhasilan. Lebih baik kita bekerja sebaik-baiknya sesuai posisi kita saat ini,dan biarkan orang lain dengan persepsinya.

Seperti kata kawan saya , bahwa "Langit tidak perlu menjelaskan bahwa ia tinggi" .

Jawablah keragu-raguan dengan kesungguhan dan karya. Belajarlah pada langit.

Selasa, 10 Januari 2017

Nikmat dan Syukur

Hari ini membaca FB status kawan saya, Aris Nurbawani, yang sangat insipatif.

"Besarnya nikmat itu ada pada rasa syukurnya", katanya.

Kita sering mendengar orang dengan kekayaan melimpah, namun dia masih korupsi. Orang dengan istri yang cantik, namun masih selingkuh.

Mengapa, mengapa, mengapa?

Rumah tiga lantai, penghasilan 100 juta perbulan termasuk kecil?

Bagi mereka yang ada di posisi itu, maka rumah tiga lantai adalah nikmat kecil, yang nikmat besar itu rumah 100 lantai. Penghasilan 100 juta itu kecil, yang besar penghasilan 1 Miliar perbulan.

Orang boleh mempunyai obsesi, namun obsesi yang tidak disertai rasa syukur hanya akan melahirkan kerakusan. Dan bahaya orang rakus adalah menghalalkan segala cara.

Hadirnya rasa syukur dalam hatimu akan mengajakmu untuk mengejar obsesi, namun hanya pada jalan yang halal saja, karena apa yang dikaruniakan padamu kamu nikmati, kamu hargai, kamu syukuri sebagai pemberian Allah.

Bahkan di sisi sana, ada seorang yang bagimu mempunyai rejeki yang amat sedikit, namun dia tetap berbahagia karena rasa syukur yang ada dalam hatinya.

Kemarin saya bertemu dengan seseorang wanita yang sudah agak tua ditempat saya membeli rujak. Dalam sebuah pembicaraan dia mengatakan, bahwa dalam setiap penen, jika dia sudah mempunyai tiga karung gabah saja dia sudah merasa bahagia. Tiga karung sudah cukup untuk hidup sampai masa panen berikutnya. Kalau soal lauk, nanti apa sajalah, kates dioseng begitu saja sudah jadi lauk.

Jadi benar apa kata kawan saya itu, besarnya nikmat ada pada rasa syukurnya.