Selasa, 05 September 2006

Bagaimana Saya Harus Belajar ?

Bagaimana saya harus belajar ? Ini adalah persoalan serius yang sedang saya hadapi. Ilmu yang ada begitu luas, buku sudah menggunung, sedangkan waktu tidak bisa diatur secara pararel. Apalagi saat ini, dengan kondisi saya sebagai suami, sebagai bapak, dan sebagai bagian dari sebuah organisasi, juga masyarakat, semakin meminimalkan waktu untuk belajar.

Di sela-sela pekerjaan, secara rutin saya berkunjung ke ebooksportal dan mengunduh berbagai e-book yang sangat menarik, tapi kesempatan untuk membacanya sangatlah sedikit. Berbagai disiplin ilmu seperti pohon raksasa, yang setiap hari semakin banyak cabang dan daunnya.

Saya seperti sedang makan di restoran Padang, dimana semua jenis makanan dihidangkan. Dan saya hanya bisa mencicipi saja tanpa sanggup mengunyah dan menelannya. CSS, AJAX, XOAD, SMARTY, PHP5, C#, XML, SOAP, PRADO, .NET, LINUX, NETWORKING, MYSQL, POSTGRESS, akhirnya menjadi menu yang hanya bisa saya cicipi saja. Belum lagi berbagai buku tentang manajemen dan olah jiwa yang menunggu untuk di khatamkan.

Spesialisasi, mungkin itu saran anda. Dan saya mengerti. Belajar salah satu bidang secara mendalam, dan mencicipi saja hal-hal lain di luar itu. Repot juga karena saya tertarik semuanya, meskipun akhirnya harus bertekuk lutut bahwa saya memang berat untuk mendapatkan kesemuanya.

Bekerja sambil belajar. Mungkin ini. Dimana kita belajar sembari mengerjakan pekerjaan kita. Jadi kurikulumnya menjadi by case. Ini yang sering saya kerjakan.

Ikutan milis. Menyenangkan ikut milis yang menunjang keilmuan. Kita disuguhi berbagai tips trik atau resep yang bisa kita coba tanpa harus banyak belajar dari awal. Kita juga menemukan banyak konsultan gratis yang akan membuat kita semakin dewasa dan pintar.

Blogwalking. Sebagian kita menganggapnya sebagai perbuatan yang sangat tidak produktif. Bagi saya lain, karena seringkali saya mendapatkan banyak ilmu yang telah di zip dalam posting-posting di blog, tanpa kita harus membaca limaratus sampai seribu lembar halaman.

Bagaiamana dengan anda ?

11 komentar:

  1. sama Om, mungkin spesialisasi cara paling tepat. tapi sayangnya saya tertarik semuanya, sastra, programming, telekomunikasi dan sekarang desain arsitektur. tapi menentukan apa yang harus dispesialisasikan itu yang paling sulit kelihatannya.

    BalasHapus
  2. ini era information overloaded bung! jika ndak lihai2 bisa terintimidasi sendiri kamu...hehehehe :)

    BalasHapus
  3. Yup, permasalahan yang sama saya hadapi juga...inginnya serba tahu, inginnya serba ahli, tapi apa daya, waktu dan kemampuan kita juga terbatas. Apa kah setiap orang yang freak membaca mengalami hal seperti ini...?

    BalasHapus
  4. Rony Syahputra N6 Sep 2006 22.13.00

    setuju......yang penting kita harus tau kita mau kemana

    BalasHapus
  5. bener sekali mas, semakin hari makin banyak aja yang blom kita ketahui dan pelajari, dan semuanya sama2 menariknya untuk dipelajari, yang paling penting kita tidak berhenti belajar aja ya toh he....he.....

    BalasHapus
  6. Spesialisasi kadang-kadang menjebak kita, keahlian kita di bidang ilmu tertentu dan mengabaikan ilmu yang lain membuat kita tidak bijaksana menyikapi suatu masalah. Tidak ada ilmu yang lepas sendirian tanpa ilmu yang lain.

    Tetap belajar Ed...karena itu yang membuat kita hidup...

    BalasHapus
  7. Hmmm setuju2. Memang kita harus memilih menjadi seoarang spesialis.. tetapi kita tentu harus menguasai hal lain yang menunjang ilmu yang kita pilih... Misalnya seorang programmer sebisa mungkin bisa desain (meski sedikit) demikian juga sebaliknya...

    Salam kenal ya... blognya bagus :D

    BalasHapus
  8. Dear Bang Edy Santoso,

    Saya baru pertama buka webside ini dan sangat bagus.

    Saya ingin sekali belajar bahasa (mis. arab, english,dll), namun kendalanya saat mendengarkan percakapan (native speaker) yang terlatu cepat sulit ditangkap maksudnya, dan suka lupa setiap perbendaharaan kata yang sudah dicatat dan saya ingat, sehingga kursus yang saya ikuti atau otodidak kurang memberikan hasil optimal, hal ini saya maklumi karena usia yang sdh kepala 48.

    Saat ini saya juga belajar tengtang metallurgy karena tuntutan pekerjaan walaupun background saya non teknik.

    Mungkin bang Edy punya tips yang jitu bagaimana mensiasatinya supaya berhasil.

    BalasHapus
  9. oom bagus sekali blog ini saya sih kepinggin belajar tentang ya ilmu ilmu komputer yang lebih mendalam tapi masih jarang ada LPK-LPK yang mengajarkan tentang linux dll

    BalasHapus
  10. #9 LPK Mungkin dulu satu-satunya tempat belajar yang praktis, namun sekarang, dengan adanya internet saya kira bisa menggantinya dengan internet.

    1. Buku bisa kita peroleh dari ilmukomputer.com atau flazx.com
    2. Kemudia jika kita masih bingung kita bisa bergabung dengan komunitas untuk tanya sana sini.

    BalasHapus
  11. ilmu yang terspesifikasi ya......
    memang benar banyak dari kita yang pengennya serba bisa (meluas dan mendalam) sulit rasanya diwujudkan, sekalipun ada paling 1.000.000 : 1 ;-)
    bagusnya sih kita bisa menguasai satu bidang secara mendalam (menyempit dan mendalam) itulah yang nantinya disebut sebagai sang ahli he he namun pada kenyataannya bayak faktor yang seringnya menghalangi untuk manjadi sang ahli bidang tertentu... diantaranya MALES (ga usah saya definisikan) kemudian ada juga kendala menganggap bahwa bidang yang sedang didalami kurang bergengsi dalam artian tidak banyak disukai orang pada umumnya (package programing winth C++ misalnya) itu menjadi kebosenan tersendiri__katanya__ tapi sebenarnya apa yang tidak begitu ngetrend adalah apa yang dibuthkan...uups tambah melenceng dari pembahasan.....
    tapi intinya mari niatkan dan tekadkan untuk belajar secara menyempit dan mendalam TAPI tetap menyeimbangkannya dengan ilmu-ilmu pendukung... saya kira itu dulu
    maaf kalo OOT

    BalasHapus

Artikel mungkin sudah tidak up to date, karena perkembangan jaman. Lihat tanggal posting sebelum berkomentar. Komentar pada artikel yg usianya diatas satu tahun tidak kami tanggapi lagi. Terimakasih :)