Jumat, 16 Agustus 2002

Mempraktekkan, Sebuah Metode Belajar Yang Efektif

Meskipun saya telah diajari mengarang sejak kelas 1 SD, kemudian diperdalam lagi di SMP dan SMA, namun mengarang tetap saja merupakan pekerjaan yang sulit bagi saya. Entahlah mengapa begitu, padahal mengarang hanyalah memindahkan gagasan-gagasan kita ke dalam sebuah susunan kalimat-kalimat. Dan begitulah bagi kebanyakan orang, mengarang adalah momok yang menakutkan, dan pekerjan yang membosankan. Saya lalu bertanya, apakah saya yang salah atau metodenya yang salah ?.

Saya baru suka menulis sejak saya menjadi Pengurus Harian JMMI. Saat itu, saya mengenal internet, dan sering menuliskan reportase tentang kegiatan JMMI di milis FSLDK atau ke PR 4 ITS lewat email. Lalu, seperti kebanyakan anak muda lain yang suka membaca cerpennya Helvi Tiana Rosa, sayapun mulai mengagumi tulisan-tulisannya, dan cara ia menulis, yang bisa mengalir begitu saja dengan runtut. Cara ia menaruh titik, koma, jeda, sangatlah sempurna. Dan sejak saat itu saya mulai belajar dari tulisan-tulisannya. Saya juga mulai menuliskan gagasan-gagasan saya ke dalam kalimat-kalimat secara rutin, dan terus terang saya mulai merasa sangat menikmatinya.

Mengapa dulu mengarang begitu sulit dan sekarang begitu menyenangkan ? Dulu bagi saya pelajaran mengarang sangatlah menyusahkan. Kita hanya diajari membuat kerangka karangan, inti paragraf, Menerangkan Diterangkan, Subjek Predikat Obyek, Eksposisi Narasi Argumentasi dll, yang membuat setiap kita menuliskan kata, selalu saja dibatasi oleh kaidah-kaidah yang menyulitkan. Namun, sekarang kaidah-kaidah itu tidaklah begitu saya fikirkan, karena yang penting, adalah bagaimana tulisan saya bisa dinikmati orang lain. Karena saya melihat para penulis seperti Hamka menulis secara mengalir begitu saja. Malahan, Emha Ainun Najib mempunyai gaya karangan bebas, yang malahan menjadikannya enak untuk dinikmati.

Dari cerita mengarang yang saya ungkapkan panjang lebar tadi, sebenarnya saya hanya ingin mengatakan bahwa seringkali dalam mempelajari sesuatu, kita hanya di sibukkan dengan mempelajari kaidahnya, dan bukannya mempelajari inti persoalannya. Pada pelajaran mengarang, kita malahan sering di ajarkan tentang induk kalimat dan anak kalimat, daripada mengambil pena dan kertas dan memulai belajar mengarang. Pada pelajaran Bahasa Inggris, kta hanya diajarkan tenses yang justru membuat banyak orang merasa bosan, dan bukannya diajarkan bagaimana mulai berbicara dan menulis dalam bahasa Inggris.

Dulu ketika saya belajar membaca Al Qur'an, pada tingkat terentu, saya diminta untuk menghafalkan tajwid. Idghom mutajanisain, mutamatstilain, Idhar Syafawi dan lain-lain yang menjadikan saya kesulitan untuk belajar tajwid. Akan tetapi ketika saya menyimak kaset muratal, sambil membuka Al quran, maka sedikit demi sedikit, saya mulai bisa membaca dengan tajwid, meskipun saya tidak begitu mengenal nama tajwid yang saya baca. Barangkali ini pulalah yang menjadikan ustadz As'ad Humam membuat metode Iqra' untuk belajar mebaca Al Qur'an. Dan metode Iqra' menekankan cara membaca a, ba, ta, na, ni, nu tanpa si santri tahu dulu nama-nama hurufnya seperti alif, ba', ta', dan nun. Dan Iqra' ternyata paling banyak dinikmati.

Akhirnya pula saya mulai berkesimpulan, bahwa belajar sambil praktik itu lebih efektif, lebih mudah, dan lebih menyenangkan. Belajar sambil melakukan itu akan terasa lebih bisa dinikmati. Saya bisa memahami, mengapa ditangan A Agym, banyak orang mulai tersedot untuk belajar Islam, ternyata AAgym membangun metode belajar dengan mengamalkan. Sedikit memang yang diajarkan, namun penekanan pada sisi pengamalan begitu besar. Seseorang akhirnya berfikir bahwa belajar Islam itu mudah dan menyenangkan.

Dizaman Nabi, ada riwayat bahwa ketika turun ayat jilbab, maka orang Madinah ramai-ramai mengenakannya, hingga yang belum mempunyai rame-rame menyobak korden hanya untuk menutupi rambut dan dadanya. Demikian pula saat perintah pelarangan khamar turun, maka orang mulai rame-rame memecahkan gentong-gentong khamr mereka. Simpel dan menyenangkan.

wallahu a'lam

Surabaya, 13 Agustus 2002 habis subuh
Edy Santoso
achedy@telkom.net

11 komentar:

  1. lumayan bagus. saya jadi ingin mempraktekkannya

    BalasHapus
  2. seringkali seseorang bukannya malas atau tidak mau belajar sesuatu, apalagi dalam hal ilmu agama tetapi ada perasaan malu untuk memulai karena keterbatasan pengetahuan atau memang tidak tahu sama sekali dan sebenarnya punya keinginan untuk dapat bisa seperti cara sholat, membaca al'quran dll. perasaan malu yang lebih mendorong untuk diam tetapi seolah-olah mengerti. apakah ada solusi untuk dapat mengajak sifat orang seperti ini ?

    BalasHapus
  3. nurman nurhakim25 Jun 2007 22.56.00

    sangat menarik mudah mudahan dapat mengambil lebih banyak lagi karangan yang lebih menarik

    BalasHapus
  4. assalamualaikum
    numpang lewat.... nuhun

    BalasHapus
  5. Dg rendah hati sy husudzon aagym bgus,namun 1 hal sy pengen tahu bs aa membudayakan dg bc kitab utk di.majlis,krn kt perlu mmbrikan
    Uswah bkn skdr mmbca lwt terjemah dan interpretasi kita..krn pnympain aa lbh bnyk ilmu hayat praktis,berikanlah pncrhan bg generasi muslim dg mmbca teks turos ulama salafusholeh..wasalam

    BalasHapus
  6. terkadang orang ingin melakukan sesuatu hal yang belum ia mengerti, tapi itu di halangi sesuatu hal tersebut sepele. sehingga timbul rasa rendah diri untuk melakukannya. do you have solution?

    BalasHapus
  7. ijin melakukan kopas artikel ke http://smpn5malang.wordpress.com

    BalasHapus
  8. #7. silahkan pak

    BalasHapus
  9. Betul sekali !!!!
    satu-satunya cara untuk menguasai ilmu baru adalah dengan mempraktekkannya. tidak ada jalan lain. Setuju !! :)

    BalasHapus
  10. tahu banyak, tanggung jawabnya banyak
    beramal banyak, pahala banyak
    tahu sedikit, tanggung jawabnya sedikit
    beramal sedikit, pahalanya sedikit
    pilih mana : tahu sedikit, amal banyak atau tahu banyak, amal sedikit atau tahu sedikit, amal sedikit atau tahu banyak, amal banyak
    terserah kemauan & kemampuan kita masing-masing

    BalasHapus
  11. Syarif Hidayat18 Apr 2009 12.40.00

    terima kasih atas pencerahannya. Saya setuju pada satu sisi, bahwa orang kadang lebih nikmat mempraktekkan daripada mengenal teori-teori njelimet. Kita rasanya setuju, mengendarai kendaraan umpamanya, mungkin kebanyakkan orang tidak mengenal 100 % arti dari rambu-rambu lintas. Tapi kadang orang juga tahu aturan namun tetap saja melanggar seperti lampu merah. Sepertinya orang itu daripada taat, lebih baik melanggar. Mungkin rambu-rambu agama pun demikian. Daripada taat, kebanyakan orang inginnya melanggar. Rupanya, melanggar itu lebih mudah daripada taat. Syukran!

    BalasHapus

Artikel mungkin sudah tidak up to date, karena perkembangan jaman. Lihat tanggal posting sebelum berkomentar. Komentar pada artikel yg usianya diatas satu tahun tidak kami tanggapi lagi. Terimakasih :)