Sabtu, 27 Desember 2008

Obrolan Investasi dan Keuangan

Dulu semasa masih kuliah, saya, beberapa kawan, dan beberapa dosen terlibat dalam suatu acara obrolan, dengan berbagai topik dan mebentuk / hadir dalam berbagai forum diskusi. Tahun 98 bicara tentang politik, namun di tahun 2000 kita banyak berdiskusi tentang pemberdayaan mahasiswa muslim.


Aktifitas itu kemudian mandeg pasca kuliah. Diskusi memang masih ada, namun tidak membawa inspirasi baru. Kemarin setelah melihat beberapa rekan bermain game saham, Pak Dodi, yang pernah S2 Ekonomi di Singapore itu malah mengajak untuk membuat obrolan tentang Investasi dan Keuangan. Gayungpun bersambut. Sabtu kemarin mulai diadakan kelas kuliah untuk rekan-rekan kantor yang diasuh oleh pak Dodi, seorang praktisi ekonomi. Dan berlanjut malam kemarin.


Malam kemarin cukup spesial, karena rekan-rekan mendatangkan dua pembicara. Pak Kresnayana Yahya, dan pak Dodi sendiri. Pertemuan kemarin baru membahas mengenai dasar-dasar manajemen keuangan. Pak Kresnayana Yahya, seperti biasa berbicara banyak tentang peluang investasi, peta perekonomian dunia, tentang behaviour orang-orang luar negeri dalam mengelola uangnya. Beliau ceritakan dari dasar tentang investasi, saham, dan sampai dimana semua sistem itu berjalan secara logis, dan bagaimana kemudian muncul produk derivatif yang menghancurkan sendi-sendi ekonomi itu.


Ada benang merah yang sama yang mereka utarakan di sesi awal ini. Anda ingin belajar tentang investasi, apakah anda punya uang ? ha.. ha.. Anda ingin belajar investasi, apakah anda sudah benar dalam mengelola keuangan keluarga. Sampai disini semua baru sadar bahwa sudah bertahun-tahun kita nggak punya perencanaan sama sekali. Praktek tawakal yang mestinya dinamik itu kita buat statik dan kita kebiri maknanya hingga menjadi pasrah dan nrimo ing pandum, padahal usaha saja belum.


Orang China adalah orang yang paling hebat dalam menggenggam uang, ia sisihkan 45% penghasilan untuk dia tabung. Di Singapore, 33%. Bahkan di Singapore sudah diwajibkan oleh negara. Dan dari uang itu mereka bisa berinvestasi. Nenek moyang kita, dulu jika anak mereka mulai berumah tangga, mereka anjurkan untuk menanam nangka, jati, atau sengon. Dalam beberapa tahun ke depan, semasa kita punya anak, maka pohon itu bisa kita potong dan jual, karena kayu itu mungkin bisa menghasilkan 6 sampai 12 juta. Ibu saya orang hebat juga dalam hal ini, dia sisihkan penghasilan sedikit-sedikit dari gaji bapak saya. Sewaktu membangun rumah, terkejut bapak, darimana ada uang tambahan sebanyak ini untuk membangun rumah. Ibu saya menasehati, sisihkan uang sejelek-jeleknya 50 ribu perbulan. Kenapa saya tidak sadar akan nasehat itu ?


Sebelum melangkah lebih lanjut, maka yang paling penting terlebih dahulu adalah merapikan manajemen keuangan keluarga kita. Kita buat perecanaan, kita buat neraca keuangan bulanan kita. Saya baru sadar, seandainya saya menyisihkan penghasilan saya 250 ribu saja perbulan sejak 4 tahun lalu maka saat ini saya sudah memegang 12 juta. Dan sudah bisa digunakan untuk investasi kecil-kecilan.


Diskusi akhir tahun ini mungkin bisa menjadi resolusi di tahun 2009 nanti, bahwa berapapun penghasilan akan saya sisihkan 20% dari penghasilan itu, dan mulai melakukan perencanaan keuangan.


Dalam Islam, melakukan perencanaan keuangan itu amat penting. Zakat adalah bagian dari ajaran Islam yang bersentuhan langsung dengan harta. Secara umum, Zakat adalah memotong 2,5% dari harta bersih untuk kita berikan kepada orang lain yang berhak, jika telah mencapai satu nishob. Yang dinamakan harta bersih adalah selisih harta yang kita peroleh dikurangi harta yang kita gunakan. Artinya tabungan, investasi.


Alhamdulillah, sekarang ini telah banyak produk-produk ekonomi syariah, baik asuransi maupun investasi. Dan kalau produk itu tidak bisa berkembang, adalah karena kesalahan orang-orang seperti kita karena tidak melakukan manajemen terhadap penghasilan kita, sehingga tidak ada uang yang kita investasikan ke sana.

1 komentar:

  1. perencanaan keuangan memang sangat penting, terutama saat krisis ekonomi seperti saat ini.

    BalasHapus

Artikel mungkin sudah tidak up to date, karena perkembangan jaman. Lihat tanggal posting sebelum berkomentar. Komentar pada artikel yg usianya diatas satu tahun tidak kami tanggapi lagi. Terimakasih :)