Senin, 27 November 2006

Mensmackdown Smack Down

Entah apa alasannya, Lativi memmutar kembali acara Smack Down yang dulu pernah di putar stasiun TV lainnya. Rating ? Saya sendiri tidak tahu, apakah rating acara semacam ini bagus ? Yang jelas orang seperti saya tidak butuh dengan acara macam itu. Atau mungkin Lativi tidak sanggup membuat acara TV, sehingga ingin mencari gampang dengan mengimport acara basi dari luar negeri itu. Harapannya jam tayang 24 jam terpenuhi, dan spot kosong itu bisa terisi acara dan bisa menghasilkan uang karena pemasukan iklan, ya, daripada tidak menghasilkan apa-apa. Sama dengan beberapa waktu lalu ketika Lativi dan TPI mengisi spot kosong tengah malam dengan kuis SMS yang sekarang dilarang itu.

Apapun alasannya, penayangan acara semacam ini sungguh patut disesalkan oleh siapa saja yang masih peduli dengan pendidikan keluarga dan anak, karena kenyataannya, anaklah yang sering menjadi korban karena ketidakmengertiannya terhadap acara semacam ini.

Perbincangan di milis Indonesian Muslim Blogger beberapa waktu ini memang mengarah pada kesimpulan bahwa tidak ada manfaat yang bia kita petik dari acara ini, bahkan acara ini menghasilkan kekhawatiran khususnya kepada anak-anak. Namun, apakah solisinya cukup mematikan TV atau membuat gerakan penolakan yang komunal, inilah yang belum dirumuskan.

Saya memahami, dalam ukuran keluarga mematikan TV sudahlah cukup. Apalagi kita sebagai kepala keluarga yang memiliki wewenang penuh untuk mengatur anak-anak kita. Namun ternyata masalahnya adalah bahwa yang menonton TV itu bukan hanya kita. Ada banyak keluarga yang tidak terlalu peduli dengan hal ini karena tingkat pengetahuannya, terutama di keluarga-keluarga dengan tinggat pendidikan yang kurang memadai. Bagi mereka jika anak-anak ini menonton, tak akan ada pengaruh apa-apa, karena menurutnya hanyalah hiburan semata.

Seperti anak tetangga saya, yang belum mau tidur kalau belum melihat Smack Down. Dan biasanya, daripada anak mengamuk, maka orang tua lebih suka membiarkannya saja.

Saya cukup kaget ketika pemberitaan di TV7 kemarin menyebutkan bahwa Reza, seorang anak di Jawa Barat (atau Banten ?) meninggal dunia karena permainan ala Smack Down dengan teman-temannya di sebuah Masjid.

Sehabis kejadian itu, Lativi mengeluarkan pengumuman agar anak-anak tidak menonton SmackDown, dan memberi pekerjaan kepada orangtua atau guru untuk menjelaskan alasannya. No.. no.., bagi saya itu tidak cukup, karena sesungguhnya yang paling penting adalah membuang sumber bencananya, yaitu acara SmackDown itu sendiri. Oleh sebab itu tuntutan orang tua seperti saya hanyalah satu dan tidak bisa ditawar lagi, HENTIKAN PENAYANGAN SMACK DOWN SEKARANG JUGA.

Jika negara tidak mampu mengontrol media, dan lembaga seperti komite penyiaran tidak bisa menghentikannya, atau jika Lativi tidak sukarela menghentikan tayangan itu, maka perlu membuat sebuah gerakan untuk menghentikan acara tersebut. Saya kira, kita para blogger yang peduli pada keluarga harus menyuarakan itu secara komunal. Sukur-sukur jika lembaga seperti kidia atau Lembaga Konsumen Indonesia bisa kita libatkan.

Kita berharap nantinya kita bisa menikmati acara televisi yang aman yang ramah terhadap keluarga. Dan kita selamatkan anak-anak dan keluarga Indonesia dengan mensmackdown Smack Down.

--------------
Sebelum posting, sempat membaca berita di detik bahwa Lativi siap bertemu dengan KPI. Saya berharap Lativi segera menyadari kekeliruannya dan masalah ini bisa selesai secepatnya. Namun juka tidak, penghuni internet yang masih sayang pada anak dan keluarga, harus membuat rumusan untuk menghentikan tayangan ini.

Catatan terakhir :
27 Nopember 2006 4.26
Membaca judul Lativi: Smack Down Jalan Terus di detik.com, menyiratkan kepongahan Lativi. Oleh sebab itu, tidak ada pilihan lain kecuali menyiapkan langkah untuk mensmackdown Lativi.

11 komentar:

  1. SETUJUUUUU. Stop tayangan Smack Down sebelum jatuh korban lagi

    BalasHapus
  2. "Seperti anak tetangga saya, yang belum mau tidur kalau belum melihat Smack Down. Dan biasanya, daripada anak mengamuk, maka orang tua lebih suka membiarkannya saja."

    Some parenting, huh ? :-)

    sekarang smackdown, terus apa, power rangers ? sponge bob ? nggak ada sensor paling canggih di dunia ini kecuali self constraint

    BalasHapus
  3. Waah..kalo Tivi harus memperhatikan pendidikan anak, insya Allah tinggal TVRI aja yang bertahan tuh. Sekarang mana ada acara tipi yang mendidik. Mendidik ke positif lho. Karena yang ada tivi mendidik remaja untuk pacaran, kekerasan, pergaulan bebas, konsumtif, dan aneka pendidikan buruk lainnya.

    Menurutku kalo cuma smack down aja, ndak akan pengaruh. Yang harus di SMACK tuh tipi di tiap rumah !!

    BalasHapus
  4. SmackDownLativi29 Nov 2006 17.58.00

    SETUJU SMACK DOWN AJA LATIVI.... KRN KALO ACARA-NYA DOANG TAKUTNYA NTAR-NTAR NAMPILIN ACARA LAIN YANG TIDAK BERBOBOT LAGI,,, "ATAU DAN HARUS" KPI DI BERI WEWENANG UNTUK MEMBERIKAN AKSI THD TV YANG MEMUTAR ACARA YANG MERUSAK TSB.......,,,
    PERLU DI WASPADAI .... MUNGKIN SETELAH SMACK DOWN BENER2 DOWN... LATIVI MULAI CARI CARI ACARA LAIN YANG MERUSAK HANYA DEMI RATING..............................

    BalasHapus
  5. sbenarnya dalam kasus ini peranan orang tua sangat penting! dan seharusnya orang tua tahu mana yang harus d prioritaskan antara jika anak ngambek tidak diizinkan untuk menonton atau lbij baik di keraskan saja agar anak anak mengerti!!! krn menurut saya dalam hal ini orang tua harus keras mendidik anak-anak nya agar bkn anaknya yang selanjut nya! mohon maaf apabila ad kata- kata yang kurang berkenan! maklum saya msh kelas 3 smp!

    BalasHapus
  6. PROTES AJA KE LATIVI! KASIAN ANAK2NYA! KLO ADA APA2 BIAYAYA PENGOBATANYA MAHAL!! KASIAN KLO ORG TUANYA DR KLUARGA YG TDK MAMPU!!!

    BalasHapus
  7. Pertama2, saya hanya tertawa melihat ke sotoy (sok tahu) an anda semua, maaf saja, selama ini saya sudah berusaha sopan me-reply post2 semacam ini, tapi kini ntah ya, baca saja comment saya

    Pertama2 perkenalan dulu, agar saya lebih bisa dipercaya, nama saya Irfan, umur 15 tahun, sekarang sekolah kelas 3 SMA di Sebuah SMA unggulan di Jakarta Selatan (tiddak percaya umur saya segitu dan berada di kelas 3 SMA ?? Silahkan saja, tapi saya anti bohong, karena comment ini memerlukan kepercayaan dari orang lain yang tinggi)

    Sebagai Fans Pro-Wrestling (WWE, SANGAT TIDAK TEPAT disebut smackdown), yang juga tergabung dalam http://www.gpqd.com/wf sangat tidak setuju acara ini dihentikan di TV (Memang ada berita yang mengatakan akan dihentikan di Lativi, tapi menurut pemilik WWE Indonesia selaku pemegang lisensi hak siar, akan dipindah ke tempat lain -- yang saya rahasiakan dulu, agar anda2 para pembenci sotoy ini tidak memprotes lebih dulu --.

    Di link yang saya kasih di paragraf ke 2, bisa dilihat kalau user2 disitu antara anak SMP - orang kuliahan, jadi sangat tidak tepat kalau 'smekdon' hanya untuk anak kecil saja, dan kami tentu saja tidak meniru adegan2 seperti itu

    "Yang jelas orang seperti saya tidak butuh dengan acara macam itu."
    Yasudah, kalau tidak butuh kenapa protes ??

    "Saya cukup kaget ketika pemberitaan di TV7 kemarin menyebutkan bahwa Reza, seorang anak di Jawa Barat (atau Banten ?) meninggal dunia karena permainan ala Smack Down dengan teman-temannya di sebuah Masjid."
    Tidak ada saksi yang mengatakan kalau mereka bermain smekdon, yang mengatakan seperti itu hanya 3 anak yang ngebunuh dia, dan 'prmbunuhan' itu dilakukan di jalanan setelah sholat taraweh

    BalasHapus
  8. saya nabila,anak SMA jg(kls XI).saya kurang setuju dgn pendapat irfan,karena kenyataan yg ada ialah banyak sekali anak2 SD menggemari smack down&menirukan adegan2 didalamnya. user2 di http://www.gpqd.com/wf antara anak SMP-kuliahan,jelas aja!anak2 kecil kan jarang ada yang kepikiran buka internet untuk melihat informasi ttg smack down,apalagi kalau anak dari keluarga yang tingkat ekonominya kelas bawah.
    tidak ada yang mengatakan bahwa smack down itu acara anak2,tapi walau bukan acara anak2 banyak anak2 yang menonton dan meniru jadi ya seharusnya jangan ditayangkan.kalau mau ditayangkan ya jam 24.00 atau 01.00 jadi anak2 tidak bisa menonton.

    BalasHapus
  9. Kalau memang kekerasan tidak boleh ditayangkan seperti "smackdown" ini otomatis harus semua yg bersifat kekerasan seperti sinetron, film film sadis dan lain2x yg seperti ini harus dihapuskan juga loh.
    Seperti Boxing, karate gimana ???
    Bukan hanya Smackdown aja.

    BalasHapus
  10. #9 Kalau bisa seperti itu malah lebih baik.

    BalasHapus
  11. BULLSHIT!
    saya sangat setuju dengan irfan
    saya sebaya dengannya, dan sebagai seorang perempuan normal yang menggemari wrestling, saya sakit hati ketika smack down berhenti di tayangkan.
    ini bukan cuma tentang tayangan televisi, tapi soal hidup saya, kemana saya akan melangkah, obsesi dan tujuan hidup saya.

    BalasHapus

Artikel mungkin sudah tidak up to date, karena perkembangan jaman. Lihat tanggal posting sebelum berkomentar. Komentar pada artikel yg usianya diatas satu tahun tidak kami tanggapi lagi. Terimakasih :)