Sabtu, 24 Desember 2005

Cara Bapak Saya Mengajar Membaca

Kemarin malam, TRANSTV menayangkan sebuah seminar tentang cara mengajari anak membaca. Pesertanya, sudah bisa ditebak, adalah ibu-ibu muda dan para calon ibu. Seorang pembicara menjelaskan metodenya. Ah, tadi malam nama metode apa ya ? Dasar saya memang pelupa :(.


Tapi metodenya seperti ini. Menyiapkan kartu. Kartu tidak harus seukuran kartu remi, yang penting bisa ditulisi dengan spidol. Setelah itu, tulisi kartu dengan kata-kata seperti ayah, ibu, adik, ayam, mangga dan seterusnya. Sambil berkata tunjukkanlah tulisan itu pada anak. Setelah itu, ujilah anak dengan menunjukkan kartu, apakah ia masih mengingatnya atau tidak.


Melihat cara mengajar membaca pada anak sebagaimana yang di siarkan melalui TV, lantas saya teringat dengan cara bapak mengajari saya membaca. Waktu itu saya masih TK. Bapak yang guru SD di sebuah desa yang tidak ada listriknya, melakukan hal yang hampir sama. Untuk bisa seperti itu, dahulu bapak tidak perlu ikut seminar di hotel, apalagi mengerti nama metodenya.


Pertama, bapak saya mengajak saya membeli karton dan memotongnya menjadi kartu.
Kedua, menuliskan kata-kata seperti yang ada dalam textbook kelas satu SD. Ini budi, ini ibu budi, ini bapak budi dan lainnya.
Ketiga, membuat lagi kartu tulisan seperti yang ada di atas lantas di potong perkata.
Ketiga, membuat lagi kartu tulisan seperti yang ada di atas lantas di potong per suku kata.
Keempat, menunjukkan kartu kepada saya lantas membacanya dan meminta saya menirukannya.
Kelima, menunjukkan kartu-kartu itu pada saya dan meminta saya menyebutkannya.
Kelima, menyuruh saya menyusun kartu kata dan kartu sukukata menjadi kata / kalimat sesuai permintaan bapak.


Hasilnya, usia TK saya sudah mahir membaca koran. Demikian pula saya termasuk berprestasi di SD, meskipun SMP dan SMA rangking saya selalu duapuluh sekian. Apalagi sewaktu kuliah :(


Kalau difikir-fikir, betapa hebatnya bapak saya, karena selain membuat saya bisa membaca di usia yang masih belia, dengan tanpa beliau sadari, saya yang sekecil itu seakan telah mengikuti sebuah seminar, yang metodenya sangat saya hafal sampai sekarang. Dan tentu saja saya akan menggunakan metode ini untuk mengajari anak saya.

9 komentar:

  1. agaknya metode membaca akan terus berkembang seiring perkembangan zaman. kalau dulu, masih diajarkan cara mengeja, anak-anak kecil sekarang sudah tidak lagi. mereka dituntut untuk mengenali huruf dan langsung membaca. terlebih sekrang sudah ada alat-alat permainan membaca untuk anak-anak, seperti board-board gitu... entah apa namanya :)

    BalasHapus
  2. Yang penting -menurut berbagai sumber-, ngajari anak membaca haruslah per kalimat, atau paling tidak per-kata, jangan ngajari anak membaca dari ngajari huruf dan mengeja.

    Ngajarai huruf, dan belajar mengeja membuat anak lebih cepat mengenal huruf, tapi membuat mereka tidak bisa 'membaca cepat'. hasilnya cenderung membaca patah-patah, intonasi aneh dan semacamnya.

    Karena gak punya waktu, ibu dulu ngajari saya baca di jalan, yang paling inget rambu-rambu "Awas kereta api, setu sepur" di dekat rumah.

    *hiks, jadi kangen ibuk*

    BalasHapus
  3. Nah, ini yang disebut dengan kreativitas. Meski dalam keadaan yang sangat terbatas, Bpk-nya Mas Edy selalu saja bisa menemukan inovasi baru soal ngajar-mengajar.

    Dan sy juga yakin banyak sebenrnya ide-ide kreatif yg muncul dr benak kepala pendidik kita di desa-desa, hanya saja mungkin belum terekspos sepenuhnya.

    BalasHapus
  4. teruslah berkarya demi anak cucu kita.

    BalasHapus
  5. Mestine bapke sampeyan entuk penghargaan :)

    BalasHapus
  6. mas djo Insankamil25 Jul 2007 18.57.00

    Iye gitu, kita juga bikin pelatihan pengajaran membaca utk guru-guru tk kampung. Biar gak kalah dg tk unggulan yang harganya mahaaaaal sekali. Orang miskin kan juga pingin pinter, ya to

    BalasHapus
  7. saya mempunyai didikan yang baru kelas satu,tapi belum terlalu lancar untuk membaca...yang lancar cuma INI,SUSU,BOLA..dan yang lain nya agak susah.saya mencoba untuk mengajari dengan perkata,tapi sepertinya sulit sekali.jadi keseringan anak didik mengejanya,dan selesai mengejanya dia juga agak sulit untuk mengucapkan kata itu...adakah metode yang kreatif yng dapat digunakan????tapi kalo disuruh untuk menyanyi "kucing garong"anak didik saya sangat hapal....hiks..hiks...

    BalasHapus
  8. setelah selesai mengajari anak saya membaca (4 thn) pasti saya langsung minum obat sakit kepala!

    BalasHapus
  9. terima kasih atas postingan ini... bermanfaat :)

    BalasHapus

Artikel mungkin sudah tidak up to date, karena perkembangan jaman. Lihat tanggal posting sebelum berkomentar. Komentar pada artikel yg usianya diatas satu tahun tidak kami tanggapi lagi. Terimakasih :)