Sabtu, 09 Juni 2001

Pertemuan 2 : Urgensi Menuntut Ilmu

Alhamdulillah, kita bisa berjumpa di pertemuan kedua ini dengan tiada halangan satu apapun. Dan sayapun berharap demikian dengan antum semua. Semoga ke-Istiqamahan selalu bersama antum semua, Semoga Allah selalu menguatkan hati kita dan mempertautkannya dalam persaudaraan yang kekal abadi, persaudaraan yang didasarkan pada nilai keimanan dan bukan persaudaraan yang hanya didasarkan pada persamaan kepentingan saja.

Urgensi Menuntut Ilmu

Seperti yang telah ana janjikan kemarin, maka pertemuan kedua ini akan membahas menengenai betapa tingginya keudukan ilmu itu dalam ajaran agama Islam.

Ikhwah filah, tentu antum semua seringkali terkesima jika mendengarkan cerita-cerita para generasi awal kita, juga generasi para ulama salaf kita yang berkecimpung dalam dunia keilmuan. Begitu bersemangat, begitu tak kenal lelah, dan akhirnya mereka bisa menghasilkan karya-karta yang sangat spektakuler yang mempunyai pengaruh besar dalam kehidupan. Dari karya-karya beliau inilah bahkan sekarang banyak menghasilkan para sarjana dan doktor.

Mungkin antum telah banyak mendengar tentang kehebatan Said bin Tsabit dengan kehati-hatiannya dalam membukukan Al Qur'an, sehingga hasil karya beliau sangat sempurna.

Demikian pula tahukan antum bahwa para penulis hadits juga telah menghasilkan banyak tulisan yang amat spektakuler, dengan kaidah-kaidah penulisan ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya secara ilmiah pula. Yang paling mengagumkan adalah semangat mereka mengumpulkan 'serpihan' hadits nabi yang tersebar di banyak negara. Sementara itu mereka juga menyelidiki tentang para perawi yang meriwayatkan hadits itu. Setelah mendapat puluhan ribu hadits lalu dipilihlah beberapa hadits untuk di bukukan, setelah sebelumnya diceck keabsahannya. Sebuah kontribusi yang sangat sulit untuk dicari tandingannya.

Demikian pula para mufassir, imam madzab, dan para ulama tempo dulu telah banyak menghasilkan karya berupa buku-buku yang sangat tebal dan bermutu. Cobalah antum buka kembali buku-buku seperti Tafsir Ath Thobari, Tafsir Ibnu Katsir; juga tulisan Ibnu Taimiyah, Ibnu Qayyim dll, yang mempunyai nilai keilmuan yang luar biasa.

Ikhwah Fillah, kecintaan Ummat Islam pada Ilmu telah banyak dicontohkan oleh para pendahulu kita, para ulama. Pertanyaannya sekarang adalah, mengapa mereka begitu cinta kepada ilmu ??

Kalu antum baca-baca pendapat ulama tentang masalah ini, antum akan mengetahui bahwa tidak ada yang mengetakan bahwa persoalan menuntut dan mengajrkan ilmu itu tidak penting, bahkan semuanya mengatakan wajib. Dan sebuah kesimpulan ringkas yang mungkin seringkali kita dengar adalah bahwa menuntut ilmu itu wajib. Mengapa wajib ?? Karena ilmu merupakan landasan amal. Ketika kita telam mengilmui sesuatu denagan benar maka amal kita adalah benar. Dan jika kita tidak mengilmuinya maka apa yang kita lakukan tidaklah mempunyai landasan sama sekali, padahal seluruh yang kita lakukan nantinya akan kita pertanggungjawabkan baik di hadapan manusia maupun di hadapan Allah.

Oleh sebab itu apa yang akan kita berbuat tentu harus kita ilmui terlebih dahulu, apa yang kita lakukan harus kita landasi terlebih dahulu, sehingga ketika kita dimintai pertanggungjawaban kita telah mempunyai alasan mengapa kita berbuat seperti itu.

Dalam QS Al Isra' 36 Allah melarang kita untuk mengikuti sesuatu yang kita tidak mempunyai pengetahuan tentangnya ?? Karena kata Allah pendengaran, penglihatan, dan hati itu akan dimintai pertanggungjawaban.

Ikhwah Fillah, satu hal yang sangat penting dalam melihat kedudukan ilmu ini adalah ketika turunnya Al Qur'an pertama kali. Malaikat Jibril memerintahkan nabi yang ummi untuk membaca. 'Iqra ' kata jibril yang diulang sampai beberapa kali. Bacalah, bacalah, bacalah. Dan tentu ini harus kita renungkan bahwa betapa pentingnya kedudukan mencari ilmu di dalam Islam itu.

Tidaklah salah, dan bukanlah hal yang kebetulan jikalau Allah dalam wahyu pertamanya dalam AlQur'an menurunkan sebuah ayat 'Iqra' bismirabbikalladzii Qalaq' 'Bacalah bengan menyebut asma Tuhanmu yang telah menciptakan'. Sebuah ungkapan pertama yang maha sempurna dan luar biasa.

Nabi, manusia yang kita junjung karena kemuliaan kedudukannya, juga banyak memotivasi kita agar lebih banyak mencari informasi dan ilmu. 'Tholabul 'ilmi faridlotun 'alaa kullii muslimin wan muslimat'. Menuntut ilmu adalaah sebuah kewajiban bagi tiap-tiap muslim dan muslimat.

Dan yakinlah betapa orang yang menguasai 'ilmu dan informasi, maka dialah yang akan memimpin dunia. Dan sayangnya 'mutiara' yang berupa semangat yang membaja dari para ulama terdahulu tidak banyak kita warisi. Justru orang lain yang mewarisi semangat untuk mencari ilmu ini.

Oleh karena itulah, dengan mengutip kata-kata mutiara ustadz Yusuf al Qordlowi ' Dunia ini akan kita takhlukkan dengan pena dan lisan, insyaallah'. Dan tentu jika demikian, akan dibutuhkan banyak orang yang berilmu dan berpengetahuan. Semoga kita termasuk ke dalam barisan yang demikian. Dan mari kita takhlukkan dunia dengan tinta dan lisan.

Wallahu a'lam

Sabtu 9 Juni 2001 pukul 9.29WIB

Edy santoso [achedy@yahoo.com]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Artikel mungkin sudah tidak up to date, karena perkembangan jaman. Lihat tanggal posting sebelum berkomentar. Komentar pada artikel yg usianya diatas satu tahun tidak kami tanggapi lagi. Terimakasih :)