Senin, 21 Oktober 2019

Antara Cangkem Apik dan Cangkem Elek

Sejak saya ketemu dengan ceramah-ceramahnya Gus Baha di Youtube, maka saya langsung klik. Saya langsung bisa merasakan auranya orang alim. Maka menjadi rutinitas, bahwa setiap pagi, saya selalu mendengarkan ceramah beliau.

Salah satu tema yang paling menarik dari ceramah beliau adalah soal "cangkem elek", yaitu bagaimana menjawab sebuah sanggahan tanpa harus menggunakan dalil, namun menggunakan logika saja. Misalnya, terkait kebiasaan bersalaman setelah sholat, itu bidah atau tidak. Maka jawabnya tidak usah dicarikan referensi, cukup ditanya balik, kebiasaan kita buka handphone setelah sholat kira-kira bidah atau tidak.

Dalam makna yang luas, "cangkem elek" maksudnya bagaimana menyampaikan sesuatu hal baik hanya dengan kalimat yang bisa dipahami partner bicara, tanpa harus mengemukakan referensi dan catatan kaki.

Gus Baha ini orang alim. Sulit ditiru.  Hafal Al Quran, hafal banyak hadits, kata-kata mutiara ulama-ulama lalu. Juga fasih berbahasa Arab, dan menguasai seluruh ilmu alat. Beliau seorang yang kutu kitab, yang membuat referensinya sangat luas. Maka beliau menjadi orang yang paling layak untuk menyampaikan kebaikan dengan "cangkem apik".

Namun kalau saya lain. Antara saya dan Gus Baha tentu "baina samaai wal sumur sat", antara langit dan sumur yang airnya habis.

Saya bukan ahli agama, tidak hafal Al Quran, tidak menguasai ilmu alat, apalagi hafal catatan kaki pada setiap buku yang saya baca. Saya sadar itu.

Namun saya ini mempunyai kegemaran untuk belajar, membuka wawasan, dan bisa memahami setiap apa yang saya pelajari. Itulah kelebihan saya.

Ibarat komputer, processornya core i7 namun memorinya hanya 1GB .

Maka ungkapan "cangkem elek" yang dikemukakan Gus Baha ini seakan menginspirasi saya untuk menyampaikan sesuatu yang baik yang fokus kepada konten, pada substansi, tanpa terbebani dengan kaidah-kaidah ilmiyah. Biarlah bagian yang sulit itu tugasnya Gus Baha.

Oleh karena itu, kaidah "cangkem elek" ini tidak usah disandarkan pada agama, walaupun substansi yang dibawa mungkin adalah substansi agama.

Dan terimakasih sudah membaca "Cangkeman Elek" saya yang tak penting ini hahaha.....

Sabtu, 12 Oktober 2019

Ridha

Manusia adalah makhluk unik. Satu-satunya jenis makhluk yang diciptakan Allah, ditaruh di dunia untuk menjawab ujian.

Level tertinggi dalam menjawab ujian adalah bagaimana cara seseorang mesikapi hidup.

Caranya adalah ridha terhadap takdir Allah. Setiap yang terjadi adalah takdir. Ketika hati menerima apapun ketentuan Allah dengan ridha, maka itulah puncak tauhid.

Allah tidak akan membuat sesuatu secara sia-sia. Dalam rangkaian takdirnya Allah membuat skenario-skenario yang sering tidak dipahami manusia.

Orang yang ridha terhadap takdir dia akan fokus ke masa depan, dan tidak akan menyesali takdirnya, karena setiap takdir pasti mempunyai hikmah. Ridha akan membuat orang menerima takdir-takdirnya.

Saya menyelami hikmah takdir pada kejadian yang terjadi pada saya. Ibu saya stroke, bapak saya buta, pada saat usia emas kehidupan saya untuk mengembangkan karir. Akibatnya saya pulang ke Desa.

Kalau cara berfikir kita pendek, mungkin kita akan protes karena kehilangan kesempatan. Saya harus hidup di desa, dengan akses ekonomi terbatas.

Namun sy tetap menemukan hikmah, bahwa takdir Allah ini selalu baik.

Pertama, posisi saya tidak terlalu penting di kota, karena di kota sudah terlalu banyak orang pintar. Di Desa saya lebih dibutuhkan masyarakat untuk membantu kehidupan mereka, masih bisa berbakti kepada orang tua, mengurus Masjid, yayasan, dsb. Hal seperti ini saya jumpai pada kawan-kawan yang lain.

Kedua, di desa saya masih mempunyai waktu untuk "hidup". Saya tidak hidup dalam kultur kerja yang ketat, sehingga kadang orang tidak mempunyai lagi waktu dalam hidupnya, karena tersedot dalam pusaran perkerjaan.

Takdir selalu baik dalam pandangan orang-orang yg Ridha. Catat itu kawan.


Sabtu, 21 September 2019

Sisi Manusiawi

Ketika kita mempelajari sejarah-sejarah masa lalu, maka kita disuguhi dengan hal-hal yang ideal. Orang-orang yang tidak pernah salah. Ketika hal seperti ini kita implementasikan dalam kehidupan, sebenarnya beresiko. Resikonya apa? Orang tidak memberi teloransi akan kesalahan.

Orang akan berfikir pasangannya ideal, anaknya ideal, kiainya ideal dsb. Dan ketika dia menemukan ketidakidealan, maka dia akan kecewa.

Dalam organisasi, kekecewaan akan berujung kepada perpecahan, dalam  keluarga perceraian. Ini bahaya.

Maka sebenarnya, kita perlu belajar setidaknya 5% saja ketidak idealan para tokoh-tokoh itu, sehingga kita bisa benar-benar menteladaninya secara manusiawi.

Dalam kaidah agama, hanya Nabi saja yang kita kultuskan, yang lainnya sisakan 5% saja sisi manusiawinya.

Beberapa waktu setelah sebuah organisasi yang saya anggap ideal pecah, maka saya agak nakal mengulik beberapa sisi manusiawi orang-orang terdahulu. Dan saya mendapatkan beberapa sisi-sisi manusiawi, sehingga saya tidak terlalu kecewa dengan perpecahan itu. Itu hal biasa dan manusiawi. Bisa dicari padanannya pada jaman-jaman ideal dulu.

Bahkan kalau menganggap semua hal itu ideal, malah kita menyalahi kodrat Allah SWT. Semuanya tetap pada rumus, orang baik itu bukan orang yang tidak berbuat kesalahan, akan tetapi orang yang kesalahannya lebih sedikit dibanding kebaikannya. Dan orang yang ketika berbuat salah dia bertaubat.

Dengan demikian maka kita akan lebih toleran kepada orang lain, lebih bisa memaafkan, dan lebih memahami tentang kehidupan dunia yang sebenarnya.

Wallahu a'lam.