Selasa, 14 Juli 2026
Bintang 5
Kemarin saya beli kursi secara online do Shopee, hanya 150 ribu tidak mahal. Namun setelah saya duduki, rasanya kok ada yang kurang. Agak goyang kalau diduduki. Saya beri bintang 4, dan kasih komentar,"Agak goyang kalau diduduki".
Setelah memberi penilaian itu saya tidak tenang. Saya membayangkan jual kursi seperti itu berapa untungnya. Kirim dari Jakarta ke Trenggalek. Toh goyangnya tidak fatal, masih masuk akal. Apalagi sekarang ini, cari uang tidak mudah. Untung nggak seberapa, masak saya kasih bintang 4.
Saya merasa bersalah, mencoba masuk Shopee lagi dan menilai ulang. Untung masih bisa diedit. Saya beri bintang 5. Hati saya tenang.
Selasa, 12 Mei 2026
Berjalan dalam Ketidaknyamanan
Posting dari Ahmad Rifai Rifan di FB. Karena isinya relevan saya posting disini. Silahkan menyimak.
Kamis, 12 Februari 2026
Bahkan Ibadahpun, Jangan Berlebihan
Di sebuah masjid kecil di sudut kota, lampu neon menyala terang. Karpet hijau digelar rapi. Jamaah duduk bersila, sebagian bersandar ke tiang, sebagian lagi mulai menunduk—bukan karena khusyuk, tapi karena kantuk.
Pengajian malam itu dimulai selepas Isya. Awalnya semangat. Ustaz membuka dengan ayat yang indah, suara mantap, dalil berderet. Lima belas menit pertama terasa segar. Tiga puluh menit berikutnya masih bisa diikuti. Satu jam berlalu, mulai ada yang melihat jam. Satu jam setengah, beberapa anak kecil sudah tertidur di pangkuan ibunya. Dua jam, suara ustaz tetap berapi-api, tapi hati jamaah perlahan menjauh.
Bukan karena materinya salah. Bukan karena ilmunya tidak penting. Tapi karena manusia punya batas.
Sering kali kita menyangka bahwa semakin lama pengajian, semakin banyak dalil, semakin keras seruan, maka semakin besar pula pahala yang terkumpul. Kita mengira kesungguhan harus selalu ditunjukkan dengan durasi panjang dan intensitas tinggi. Padahal, yang panjang belum tentu membekas. Yang keras belum tentu meresap.
Dalam sejarah Islam, ada sebuah kisah yang lembut namun sangat tegas pesannya.
Suatu hari, Nabi Muhammad ﷺ mendengar tentang tiga orang sahabat yang bertekad melakukan ibadah secara ekstrem. Yang satu berkata, “Aku akan sholat sepanjang malam, tanpa tidur.” Yang lain berkata, “Aku akan berpuasa setiap hari, tanpa berbuka.” Dan yang ketiga berkata, “Aku tidak akan menikah, agar bisa fokus ibadah sepenuhnya.”
Niat mereka baik. Bahkan sangat baik. Mereka ingin menjadi hamba yang paling dekat dengan Allah.
Ketika kabar itu sampai kepada Rasulullah ﷺ, beliau tidak memuji mereka sebagai pahlawan spiritual. Tidak pula mengatakan, “Itulah standar tertinggi keimanan.” Beliau justru meluruskan.
Dengan tenang beliau bersabda bahwa beliau sendiri berpuasa dan berbuka, sholat malam dan juga tidur, serta menikahi wanita. Lalu beliau menegaskan, siapa yang tidak menyukai sunnahnya, maka ia bukan termasuk golongannya.
Kalimat itu sederhana, tetapi mengandung revolusi pemahaman: Islam bukan agama yang memaksa manusia keluar dari fitrahnya.
Manusia butuh istirahat. Butuh keluarga. Butuh tawa. Butuh jeda.
Begitu pula dalam dakwah dan pengajian. Jika setiap pertemuan harus dua atau tiga jam tanpa henti, jika setiap nasihat harus bernada ancaman, jika setiap ceramah dipenuhi tuntutan tanpa ruang bernapas, maka yang lahir bukan cinta, melainkan lelah.
Nabi ﷺ justru dikenal sangat memahami kondisi manusia. Abdullah bin Mas’ud pernah berkata bahwa Rasulullah memilih waktu-waktu tertentu untuk memberi nasihat agar para sahabat tidak bosan. Beliau khawatir kejenuhan membuat hati menutup diri.
Perhatikan itu: Rasulullah khawatir sahabatnya bosan.
Padahal yang berbicara adalah manusia terbaik. Yang mendengar adalah generasi terbaik. Namun tetap saja, hati manusia punya kapasitas.
Maka betapa ironis jika hari ini kita merasa semakin panjang semakin saleh, semakin berat semakin berkah, tanpa mempertimbangkan daya tahan jiwa. Pengajian yang seharusnya menjadi taman ruhani berubah menjadi ujian fisik. Jamaah hadir karena sungkan, bukan karena rindu.
Berlebihan atas nama ibadah tetaplah berlebihan.
Islam datang bukan untuk mematahkan manusia, tetapi untuk menuntunnya berjalan seimbang. Ada waktu untuk serius, ada waktu untuk tersenyum. Ada waktu untuk menangis dalam doa, ada waktu untuk bercengkerama dengan keluarga. Ada waktu untuk mendengar ceramah panjang, ada pula waktu untuk nasihat singkat yang menggetarkan.
Yang membuat hati berubah bukan selalu lamanya durasi, tetapi dalamnya makna.
Seperti hujan, bukan banjir yang menyuburkan tanah, melainkan rintik yang konsisten.
Barangkali yang kita butuhkan bukan pengajian yang semakin panjang, tetapi pengajian yang semakin hidup. Bukan suara yang semakin keras, tetapi hati yang semakin dekat. Bukan tuntutan yang semakin berat, tetapi ajakan yang semakin hangat.
Karena agama ini indah ketika dijalani dengan seimbang. Dan keseimbangan itu bukan tanda lemah, melainkan tanda memahami sunnah.
Jangan berlebihan. Bahkan atas nama ibadah sekalipun.
Sebab Allah tidak pernah memerintahkan kita menjadi malaikat. Kita diminta menjadi manusia—yang taat, tetapi tetap manusia.