Sabtu, 14 Januari 2023

Nasehat dr. Syakiran tentang Ilmu

Tadi malam saya melihat channel Ust. Faizar dan dr. Richart. Dan salah seorang nara sumbernya, dr. Syakiran, memberikan banyak insight yang sangat berpengaruh pada saya.


Pertama, jika ilmu Allah diumpamakan air di lautan, science yang dibanggakan manusia ini hanya seperti air yang tertinggal di jari kita ketika kita mencelupkannya dilautan dan mengangkatnya kembali.

Jadi jangan menafikan luasnya ilmu walaupun ilmu itu mungkin bukan mainstream dan diluar domain yang kita kuasai.

Kedua, beliau menyampaikan nasehat dari dr. Sunarto Unair yang mengatakan bahwa orang ahli adalah orang yang mengetahui batas keahliannya.

Ketiga, Ilmu Al Quran dan Science apabila cara belajarnya benar, maka akan didapatinya bahwa keduanya sebangun.

Tiga insight yang luar biasa.

Rabu, 04 Januari 2023

Dua Perspektif Surga di Telapak Kaki Ibu

Biasanya setiap pagi bapak saya mendengarkan pengajian. Karena saya serumah dengan beliau, ya sayapun akhirnya ikut mendengarkan juga, sembari mengerjakan kewajiban rutin saya.

Tadi pagi mendengar insight menarik dari Gus Miftah tentang perspektif lain dari ungkapan "Surga berada di telapak kaki ibu".

Dari sisi anak, ungkapan tersebut bisa diartikan bahwa berbakti kepada ibu adalah jalan menuju surga.Ini ungkapan yang sering kita dengar dan pahami, ya termasuk yang saya pahami.

Namun ada sudut pandang lain yang juga menarik, sudut pandang dari sisi ibu. Dari sisi ini ungkapan "surga berada di bawah kaki ibu" bisa diartikan bahwa apakah anak berjalan menuju Surga  itu tergantung dari bagaimana ibu mendidiknya. Karena sebegitu penting peran ibu dalam mengarahkan atau mendidik putra-putrinya, maka dikatakan surga berada di bawah kakinya.

Saya kira menggunakan dua sudut pandang ini menjadi menarik karena hubungan anak-ibu menjadi lebih komprehensif karena ada hak dan kewajiban.

Wajar nabi mengartakan bahwa surga berada di telapak kaki ibu, karena waktu itu nabi berbicara dengan seseorang dalam posisi sebagai anak. Dalam agama, manusia di dorong untuk lebih melaksanakan kewajiban daripada menuntut hak. 

Rabu, 28 Desember 2022

Inefisiensi Pendidikan

Menurut pendapat saya pendidikan di Indonesia ini sudah inefisien. 


Setiap hari pelajar pergi ke sekolah 6 jam 8 jam bahkan ada yang boarding. Mereka sekolah selama 5 hari per minggu atau bahkan sepanjang waktu.

Di satu sisi penyelenggara pendidikan juga mengalami kerepotan yang luar biasa. Administrasi dan berbagai macam persiapan menyita banyak waktu. 

Pada akhirnya output dari seorang pelajar tidak sesuai dengan kerumitan proses pembelajarannya.

Sebagai studi kasus untuk anak kelas 1 SD apa output yang diinginkan, dan apakah prosesnya harus serumit itu untuk mencapai output?

Anak kelas 1 SD hanya butuh untuk bisa membaca bisa menulis dan dasar berhitung. Pelajaran yang tidak rumit. Kalau mau jujur sebenarnya hanya butuh keterampilan mengajar saja.

Dari sini saya melihat cara pembelajaran zaman dulu jauh lebih efisien.

Guru adalah seorang expert yang kemudian dia mengajarkan dengan keterampilan mengajar yang dia miliki.

Seorang guru fokus untuk mengajarkan dan melatih  muridnya cara untuk menguasai topik. 

Seorang kyai fokus untuk mengajarkan ilmu dengan cara yang sangat efisien. Beliau menggunakan buku atau kitab sebagai kurikulumnya lalu dia memberikan wawasan dan contoh kepada muridnya. Efisien.