Senin, 08 November 2021

Jadilah Cerdas dengan Membaca Buku

Saat ini informasi benar-benar telah menjadi bagian kehidupan yang sudah menyatu dengan kehidupan umat manusia. Saking menyatunya, setiap gerakan manusia modern senantiasa tercatat oleh sistem. 

Apa yang kamu cari di internet, yang kamu ketikkan, perjalananmu ke tempat-temapt wisata kemarin, selain oleh malaikat, semua dicatat dalam berbagai aplikasi. Kita benar-benar tidak bisa lari dari arus informasi ini, kecuali kamu lari ke gunung, membuang smartphonemu dan bertapa disana.

Demikian juga asupan pemikiran dan pemahaman kita akan hidup ini, kamu akan dicekoki dengan berbagai pendapat, status, artikel-artikel ringkas, yang setiap hari kita akses melalui berbagai macam sosial media. Bukan hanya masyarakat awam, namun juga para pemimpin dan orang-orang yang dianggap punya otoritas dalam keagamaan.

Beberapa orang merasa cukup dengan nasehat-nasehat gurunya. Satu dua nasehat itu dianggapnya sebagai sanad, dan merasa cukup berbangga dengan itu, padahal kehidupan tidak bisa dijawab dengan satu dua nasehat. Seseorang harus mempunyai  pola berfikir yang dibentuk dari proses-proses pembelajarannya.

Sebagiannya ingin menjawab ini semua dengan melaksanakan ibadah yang banyak, sholat malam tiap hari dan membaca Al Quran 2 Juz perhari, padahal mayoritas tidak paham apa yang dibacanya, dan menganggapnya itu sebagai sebuah usaha yang besar, dan menyelesaiakan semua persoalan ummat.

Tidak bisa itu semua kawan, untuk menjawab itu semua kita harus membaca Quran yang disitu ada penjelasannya. Harus membaca buku yang mejelaskan tentang berbagai hal. Orang menulis buku membutuhkan riset, pengalaman, perenungan. Bukan seperti membuat status di media sosial yang terlalu parsial.

Itulah mengapa kita harus tetap cerdas. Jangan merasa terlena dengan tidak membaca. Jangan jadikan organisasi, jamaah, lingkungan tempat kita beraktifitas dan tinggal membuat kita buta, tertutup pikiran dan mata kita, dan membuat mata kita seperti terpasang kacamata kuda. Bukalah jendela-jendela ini dengan membaca buku!

Minggu, 07 November 2021

Tawazun

Salah satu prinsip beragama yang paling penting adalah Tawazun. Tawazun adalah menjaga keseimbangan agar semuanya berjalan dengan baik. Tidak mengurang-ngurangi dan tidak berlebih-lebihan. Ini seperti orang makan, makan yang tawazun membuat kita tidak lapar, dan kita tidak ekkenyangan. Atau tawazun itu, seperti seorang chef yang meracik komposisi makanan yang pas sehingga menghasilkan roti yang enak.

Oleh sebab itu saya katakan, cara menjaga agama itu adalah dengan menjaga sikap tawazun.

Sikap penyelewengan agama acapkali disebabkan sikap yang tidak tawazun. Contohnya ummat yang menganggap nabinya berlebihan sehingga menjadikannya sebagai Tuhan. Kecintaan kepada seorang sahabat nabi yang berlebihan yang melahirkan syiah. 

Hururiyah, Khawarij dan sebagainya juga merupakan buah dari cara beragama yang tidak tawazun.

Dalam ibadah juga demikian. Allah sedemikian sempurna menjadikan ibadah itu ada yang wajib, ada sunnah yang bermacam-macam agar kita mampu mengatur itu semua menjadi harmioni.

Ghuluw dalam ibadah menyebabkan kelelahan dan bosan. Padahal nabi pernah mengomentari seorang wanita yang terkenal abid, Demi Allah, Allah tidak akan bosan hingga kalian bosan.  

Laa yukallifullaha nafsan illa wus'aha

Rabu, 03 November 2021

Belajar dan Sekolah

Tadi saya membaca artikelnya Agus Waluyo tentang Archimedes yang dididik ayahnya dengan dasar-dasar ilmu pengetahuan, sehingga Archimedes tumbuh menjadi seorang ilmuwan hebat dimasa tahun 200-an sebelum masehi.

Dalam buku The Innovators, ada juga kisah Ada yang belajar Matematika dengan belajar ke orang-orang yang dianggap ahli Matematika.

Pun dimasa Nabi Muhammad, tidak ada sekolah khusus belajar Agama.

Tapi di era sekarang lain. Sekarang jamannya sekolah. kalau tidak sekolah malah dicari Pak Lurah untuk diberi pengarahan.

Ya, saya tidak ingin menyalahkan sekolah. Tapi alangkah baiknya orang sekolah itu untuk belajar. Lha memangnya selama ini?