Senin, 15 Februari 2021

Jaga Semangat

Secanggih apapun mobil, maka dia tidak akan bisa digunakan apabila energinya habis. Demikian pula ketika kita punya smartphone, ketika baterai habis maka alat itu tidak akan bisa menjalankan fungsinya.


Manusia juga demikian. Sebaik apapun memahami agama, sebanyak apapun ilmu yang dia punyai, namun apabila dia kehilangan motivasi, maka akan seperti smartphone tanpa baterai. 

Pada zaman nabi pernah ada sahabat mengadukan persoalan ini kepadanya. Saya munafik ya Rasulullah, apabila aku dekat denganmu, menghadiri majelismu, jiwaku menjadi bersemangat, namun apabila kembali ke rumah, semangat itu menjadi luntur. Sa'atan wa sa'atan, sesaat dan sesaat ya sahabat. 

Itu hal biasa dan manusiawi. Motivasi itu bisa habis, dan apabila motivasi itu menipis, segera charge kembali. Bagaimana caranya?

Hadiri forum-forum yang menambah semangatmu, ghirahmu, energimu.

Bergaullah dengan orang yang sukses, setidaknya mereka optimis dan tidak suka mengeluh dan menyalahkan orang lain.

Dalam.buku Setrum Warsito, seorang bapak yang anaknya tidal sepandai Warsito selalu mengatakan: bergaullah dengan Warsito biar ketularan pintar.

Baca buku biografi orang-orang besar, biar setrumnya mengalir ke dalam dirimu.

Lihat Film yang berisi kepahlawanan, kehidupan, perjuangan, yang akan memotivasi dirimu.

Dan, di era medsos ini, lihat Youtube yang memotivasi, serta follow akun medsos orang-orang yang mampumenciptakan ghirah, dan unfollow orang-orang yang hanya mengotori jiwamu.

Ingat bro, baik dan pintar saja tidak cukup, tapi kita butuh orang baik yang bergerak dan orang pintar yang bergerak.


Kamis, 11 Februari 2021

Professional vs Seniman

Dalam berbagai kehidupan saya melihat dua watak manusia. Watak seniman, dan watak professional. 


Watak professional digambarkan sebagai watak yang tekun, sistematik, teratur, presisi dan birokratis.

Watak professional ditampilkan oleh orang yang senang bersekolah, para doktor dan professor, birokrat dan pegawai. Konon otak kirinya lebih dominan. 

Sementara di sisi lain para seniman digambarkan sebagai orang yang tidak menyukai peraturan, birokrasi, dan formalisme. Dia tidak ingin diikat. Atau dia lebih suka pada ikatan yang longgar.

Dalam pandangan seniman, aturan-aturan itu hanya membatasi imajinasi dan menjadi penghambat untuk berkarya.

Google, Yahoo, IPTN didirikan oleh para professional, sementara Microsoft, Apple,, Facebook didirikan oleh orang yang tidak selesai kuliahnya, ya, mungkin mereka seniman.

Dalam banyak hal, professional lebih tegas dibanding seniman.

Dalam khazanah Islam, para fuqaha dan mutakallimin adalah professional, sementara para wali adalah seniman.

Professional atau seniman semuanya baik, asal merasa nyaman dengan itu. Toh dalam hidup pasti tidak bisa 100% profesional atau seniman. Yg ada hanya lebih dominan mana.

Kerjasama professional dan seniman adalah jalan terbaik. Jadi jangan saling klaim bahwa inilah satu satunya metode terbaik.

Setelah saya pikir, ternyata saya lebih dominan menjadi seniman, kalau kamu?

Rabu, 10 Februari 2021

Keluarkan Jurus Seperlunya

Seorang pendekar yang hebat bukan pendekar yang senang mengobral jurus. Tapi keluarkan jurus sebatas kebutuhan.


Dulu saya penggemar sandiwara radio Saur Sepuh. Hiburan utama sebelum era sinetron ada, dan sebelum banyak orang mempunyai TV. Bulum terbayang intenet, smartphone dan sebagainya.

Dalam sandiwara itu sering ada adegan duel. Dan setiap pendekar yang duel selalu menggunakan jurus dari rendah ke tinggi.

Jika terjadi duel, Brama Kumbara mengeluarkan jurus biasa saja. Tapi meningkat sesuai kebutuhan dan ketahanan lawan.

Pertama akan dikeluarkan jurus ajian serat jiwa, lalu apabila musuh masih kuat, dikeluarkan ilmu waringin sungsang, kalau masih kuat maka dikeluarkan ilmu lampah lumpuh.

Level orang dalam ilmu itu ada tiga tingkatan.

1. Orang yang mempelajari ilmu
2. Orang yang menguasai ilmu
3. Orang yang mampu menggunakan ilmu

Orang yang sudah mampu menggunakan ilmu secara sempurna maka orang itu sudah masuk ke dalam tingkat kebijaksanaan.

Negara ini carut marut oleh dua hal. Orang yang yidak memiliki ilmu dan orang yang mempunyai ilmu namun tidak bisa menggunakan ilmu.