Selasa, 27 April 2021

Islam yang Berkemajuan

Kalau kita melihat peradaban masyarakat Islam sejak zaman Nabi Muhammad sampai sekarang, maka kita akan menyaksikan pasang surut perkembangan masyarakat Islam itu.


Kadang berada di puncak, stagnan, atau malah di bawah. 

Di masa awal, nabi berhasil membawa masyarakat yang jahil menjadi masyarakat yang beradab dan unggul, yang kemudian diteruskan oleh generasi penggantinya. Islam menjadi meluas di segala penjuru.

Pun demikian ketika era Umayah maupun Abbasiyah, Islam menunjukkan kelasnya sebagai peradaban yang tinggi, yang menjadi referensi bagi kebudayaan lain. Islam berkembang bersamaan dengan berkembangnya sains dan teknologi pada waktu itu.

Namun sayang setelah Era itu dan setelah dihancurkannya peradaban Islam oleh Mongol menjadikan peradaban Islam mengalami ketertinggalan. Pernah naik lagi di masa Turki Usmani namun peninggalan intelektual di masa itu tidak sebagaimana di era sebelumnya.

Setelah masa imperialisme sampai sekarang peradaban Islam tertinggal jauh dengan peradaban barat. 

Peradaban Islam mengalami stagnanisasi berpikir, baik dalam agama lebih-lebih dalam bidang sains dan teknologi.

Ini tak lepas dari tafsir terhadap ajaran agama yang terlalu klasik, yang tidak ditransformasikan ke dalam era kekinian. 

Dalam ajaran agama sebenarnya jelas, bahwa yang tetap adalah keyakinan dan cara menyembah Allah, sedangkan dalam ilmu pengetahuan dan muamalah Islam meninggalkan rambu-rambu saja, yang dipahami secara baik pada era sahabat, Umayyah dan Abbasiyah.

Dalam hal itu, Islam memandu kita untuk memimpin peradaban, dengan menggunakan Islam sebagai:

1. Spirit atau semangat sebagaimana yang ditunjukkan oleh generasi awal yang mampu meluaskan pengaruhnya ke dalam Bizantium maupun Persia.

2. Filter, dimana umat Islam bisa berkolaborasi dengan budaya lain dengan filter nilai-nilai Islam.

3. Inspirasi, dimana umat harus bisa mentransformasikan ajaran-ajaran Islam itu sebagai inspirasi, dimana disitu ada ketuhanan kemanusiaan keadilan dan kesetaraan.

Demikian mudah-mudahan kita menjadi bagian dalam kemajuan peradaban Islam sebagaimana yang terjadi pada generasi awal.

Selasa, 20 April 2021

Allah itu mudah

Sering saya mendapat sebuah daftar amalan yaumiyah atau amalan harian yang harus dijalankan oleh anggota perkumpulan dan anggota organisasi. 


Terdiri dari amal-amal yang harus dijalani atau dilakukan, baik wajib maupun sunnah.

Tapi kadang-kadang susunan yang dibuat itu terlalu banyak sehingga menyiksa orang yang beramal. Mestinya beramal itu asyik bergembira mendekatkan diri kepada Tuhan, justru menjadi pekerjaan yang sangat tidak asik.

Kalau kembali kepada Allah sesungguhnya mudah, ibadah itu ada yang wajib dan ada yang tidak wajib. Yang wajib harus dikerjakan dan yang tidak wajib boleh dikerjakan dan boleh tidak. Bahkan yang wajib itu bisa mendapatkan keringanan atas keadaan-keadaan tertentu.

Kewajiban itu adalah bukti taat kita kepada Tuhan. Harus dikerjakan. Tapi yang wajib  itu sedikit dan tidak berat.

Sedangkan perintah yang tidak wajib itu adalah bukti kecintaan kita kepada Allah. Cukup dimotivasi dilatih agar dikerjakan dengan rasa cinta, bukan dibuat menjadi wajib.

Makanya hal-hal yang seperti itu sebenarnya harus dibuat oleh orang alim dan bukan dibuat oleh abid. Karena orang Alim mengerjakan ketaatan berdasarkan ilmu, sedangkan abid banyak yabg hanya  berdasarkan prasangkanya.









Sabtu, 17 April 2021

Ramadhan Puncak Latihan

Ramadhan sering disebut bulan latihan, namun sebenarnya bukan hanya latihan tapi puncak latihan.


2 bulan sebelum ramadhan tepatnya di bulan Rajab, nabi berdoa, ya Allah berkahilah kami di bulan Rajab, berkahi kami di bulan sya'ban, dan sampaikan kami di bulan Ramadan.

Artinya, nabi sudah menyiapkan latihan ini pada bulan Rajab, hingga Ramadhan sesungguhnya adalah puncak dari latihan. Ibarat olahraga, 2 bulan sebelum Ramadan adalah pemanasan.

Kebiasaan tidak bisa dibangun instan, tapi dia membutuhkan proses. Orang membaca Alquran 1 juz misalnya, harus menempuh proses membaca 1 halaman dulu, tidak ujug-ujug langsung 1 juz.

Sebuah target ibadah yang tidak melalui sebuah proses, mengandung resiko gagal. Bahkan bisa jadi seseorang merasa terpaksa tidak nyaman bahkan benci dengan ibadah yang dia lakukan.

Menurut seorang profesor dari Stanford university, pada dasarnya manusia mempunyai kelembaman. Maka untuk mengatasi kelembaman itu, maka dibuatlah sebuah aktivitas yang seakan-akan lembam, yaitu aktivitas yang sangat sedikit.

Mungkin target di bulan Rajab minggu pertama, sehari membaca Alquran satu halaman saja, Minggu kedua 1 lembar dan seterusnya. Maka di bulan romadhon ketika targetnya menjadi 1 juz per hari seseorang menjadi terbiasa dan bahkan menikmati aktivitas yang dia lakukan.

Demikian.