Minggu, 10 Maret 2019

Adab Sebagai Pondasi Ilmu.

IBNU QASIM mengisahkan,”Aku telah berkhidmat kepada Imam Malik selama 20 tahun. Di waktu itu dua tahun belajar ilmu sedangkan sisanya belajar adab. Alangkah baiknya jika aku menjadikan rentang waktu itu untuk adab semua.”

Sedangkan Imam Asy Syafi’i menyatakan,”Imam Malik berkata kepadaku,’Wahai Muhammad jadikan ilmumu garam sedangkan adabmu sebagai tepung.” (Lawaqih Al Anwar Al Qudsiyyah, hal. 642)

Dua paragraf diatas saya cuplik dari sebuah tulisan di Hidayatullah.com yang menggambarkan kuasailah adab, sebelum ilmu. Lama saya tidak bisa memahami makna ini. Adab yang dimaksud itu apa? Mengapa harus selama itu belajar adab?

Lalu setelah saya renungkan ketemulah bahwa adab yang dimaksud disitu adalah belajar dengan membersamai Imam Malik, menjadi pelayannya Imam Malik. Bukan belum-belum belajar metode, rumus-rumus fiqih, namun membersamai Imam Malik itulah adab.

Orang yang yang terjun langsung dalam dakwah, membersamai para ustadz, maka dia akan mendapatkan buah adab itu. Tidak sama dengan orang yang hanya mendapatkan informasi dari belajar.

Analoginya begini, ada seseorang yang ingin belajar bisa membuat gedung. Yang satu ikut tukang selama dua tahun, yang satu belajar di STM selama dua tahun. Mana yang benar-benar terampil?

Nah apakah dari itu semua artinya ilmu tidak penting? Bukan demikian, maka yang dimaksud disitu bahwa belajarlah adab sebelum ilmu. Belajarlah dalam bimbingan ahlinya sebelum belajar metodologi dan lain-lain.

Kita bisa belajar Islam sampai level Doktoral di McGill University Canada, Chicago University. Disitu akan diajarkan ilmu, namun tidak didapat adab. Anda akan mendapatkan gelar Cendekiawan, namun belum Ulama.

Dalam beberapa kesempatan, ada beberapa yang merasa tinggi hati karena pintar dengan ilmu bahasa arab, nahwu sharaf, balaghah. Ada yang merasa luar biasa karena kefashihan lidah dan banyaknya hafalan. Nanti dulu, adabnya sudah atau belum.

Maka sering kita tahu, mengapa ada orang menguasai hanya kitab "Safinatun Najah", namun setiap hari dia sholat Jamaah di Masjid. Dan ada orang yang menguasai kitab Fatkhul Mu'in yang tebal, tapi jarang sholat Jamaah di Masjid. Contoh pertama menggambarkan ilmunya hanya dasar, tapi dia dibesarkan dengan adab. Yang kedua, banyak ilmu kurang adab.

Karena seperti yang dikatakan Imam Malik kepada Imam Syafi'i, "Ilmumu garam sedangkan adabmu sebagai tepung".

Wallahu a'lam




Selasa, 29 Januari 2019

Belajar Sejarah

Mungkin sekitar dua, tiga bulan ini saya agak serius mempelajari sejarah. Sebelumnya sudah ada minat sih, namun lebih berminat lagi dalam dua bulan terakhir.

Saya belajar sejarah bukan karena pekerjaan atau saya sedang belajar mencari gelar PhD hahaha... tapi ternyata karena saya menyadari bahwa sejarah adalah kebutuhan.

Sebab lain adalah karena selama ini saya belajar "Agama" dalam pengertian yang luas dalam sudut pandang ideal, dan terkejut karena organisasi yang dianggap sangat teguh memegang agama, berisi banyak para quro, para abid, nyatanya bisa pecah juga. Saya hampir lupa bahwa sesungguhnya mereka semua hanyalah manusia.

Saya membeli buku sebagian Al Bidayah wa Nihayah karangan ulama terpercaya Ibnu Katsir, juga Buku Pintar Sejarah Islam, juga Tarikh Khulafa karya Imam As Suyuthi, dan membacanya, lalu saya dapati bahwa manusia itu tetaplah manusia. Kadang benar, kadang salah, kadang dia tidak bisa keluar dari sisi dilematisnya sebagai bagian dari komunitasnya, atau lingkungan tempat dia berada.

Di text anda hanya akan menjumpai orang jahat berperang dengan orang baik, namun di sejarah anda akan menjumpai, orang baik berperang dengan orang baik.

Sejarah telah mengubah pandangan saya akan banyak hal, sekaligus bisa dijadikan referensi  bagaimana menempatkan diri dalam berbagai situasi.

Mungkin dalam beberapa waktu kedepan, rak saya akan dipenuhi oleh buku-buku sejarah yang agak tebal dan detail, karena perlu diketahui, selama ini sejarah terasa tidak menarik karena buku yang kita baca terlalu garis besar, dan begitu saya menemukan buku-buku sejarah yang detil, semuanya terasa menjadi sangat menarik.

Selasa, 11 Desember 2018

Antara Gagasan, Pengalaman, dan Ketrampilan

Hari ini seorang kawan share artikel renyah. Artikel siapa lagi kalau bukan artikel Dahlan Iskan.

Sudah lama saya mengagumi Dahlan Iskan (DI). Tulisan-tulisannya mengandung gagasan. Sering orang menulis atau berbicara "ngalor ngidul" namun inti yang dibicarakannya tidak jelas. Sesungguhnya dia sedang menulis apa, sesungguhnya dia sedang berbicara apa. Namun kalau saya membaca tulisan DI ini, selalu ada kesimpulan yang saya dapatkan.

Kedua, tulisan DI ini menjadi menarik, karena disertai dengan ilustrasi yang cukup. Ilustrasi itu berasal dari pengalaman DI yang cukup banyak. Ini membuat tulisannya terasa renyah seperti kerupuk.

Ilustrasi-ilustrasi itu membantu kita mencerna gagasan. Kita tahu, DI banyak berkunjung ke berbagai tempat, dan berteman dengan banyak orang. Itulah yang membuat dia bisa menjelaskan berbagai persoalan dengan panjang lebar dan merangkaikannya dengan pengalaman-pengalamannya.

Selain perjalanan dan pergaulan, cara lain menambah pengalaman adalah dengan membaca buku. Orang yang menulis konsep, tapi tidak bisa memberikan ilustrasi dengan baik, biasanya hanya dua: perginya kurang jauh, atau tidak pernah membaca buku. Kalau ada presiden bilang, saya tidak suka membaca, saya bilang fatal.

Ketiga, Keterampilan. Gagasan punya, pengalaman ada, tapi tak punya ketrampilan, ibarat kita punya kemauan membuat nasi goreng. Nasi ada, bumbu ada, telur ada, kompor ada, tapi kita tidak bisa menggoreng nasi dengan baik. Nah cara terbaik melatih ketrampilan adalah dengan latihan. Anda akan menjadi terampil dengan berlatih 10.000 jam. Tidak ada yang instant untuk menjadi professional.

Nah, bagaimana cara kita agar bisa meramu gagasan, pengalaman dan ketrampilan? bacalah tulisan Dahlan Iskan, lalu mulailah menulis blog sekarang.