Minggu, 03 Februari 2002

Membangun Optimisme

Ketika suatu saat saya akan ber UMPTN, iseng-iseng mencoba membeli buku panduan UMPTN dengan soal-soal sebelumnya. Disana ada beberapa petunjuk bagaimana bersikap agar lulus UMPTN. Tapi yang menarik adalah sebuah kata-kata yang berbunyi, “berfikirlah untuk lulus, maka anda akan lulus” Kata-kata itu bagi saya adalah sangatlah istimewa dan belum pernah saya mendengar kata-kata seindah itu.

Kalau kemudian saya fikir-fikir, barangkali itulah yang dimaksud dengan optimisme, berpandangan positif, berprasangka baik akan sebuah keberhasilan. Dengan mengangankan keberhasilan, kita akan terpacu untuk berbuat banyak dan berusaha keras untuk menggapainya. Berbeda dengan ketika kita berangan-angan akan kegagalan, hanya membuat kita berputus asa dan tentu tak kan lagi berusaha.

Sebuah prasangka positif harus ada pada kita, ketika kita memulai sesuatu. Karena itulah modal awal dari sebuah kesuksesan, modal awal dari keberhasilan kita.

Barangkali saat ini banyak bahkan mahasiswa yang stress, nanti setelah lulus, kerja apa yah, lagian banyak yang menganggur, dll. Pikiran semacam itu pernah juga menghantui saya, tapi percayalah bahwa pikiran semacam itu tak kan menguntungkan buat kita, tak kan banyak manfaatnya bagi kita. Berharap positif akan lebih bermakna dan bermanfaat, dan tentu lebih menenangkan daripada berpengharapan negatif seperti itu.

Amatilah orang disekitar kita, Pak Padi misalnya, dia tak pernah merasakan tentang kuliah, dan dia mengawali sebuah usahanya dari toko kecil-kecilan. Dan sekarang apa yang telah dilakukan telah memberikan hasil, tokonya menjadi mini market. Saya yakin bahwa semuanya berawal dari sebuah optimisme akan keberhasilan.

Saya pernah bertemu dengan para ustadz Hidayatullah Surabaya, dan berceritalah beliau kepada saya tentang bagaimana Hidayatullah Surabaya berkembang. Katanya dahulu beberapa orang yang kebanyakan juga anak ITS dan Unair, mempunyai cita-cita mulia dalam dakwah, dan berharap bahwa apa yang diusahakannya akan berhasil. Pertama, ia hanya mengontrak rumah kecil untuk aktifitasnya, namun sekarang yang kita lihat adalah sebuah pesantren megah dengan fasilitas asrama, kampus, mini market, dan beberapa usaha lain. Sebuah prestasi yang barangkali juga tak terbayangkan sebelumnya.

Allah mendorong ummatnya untuk selalu optimis dan berprasangka baik. Dalam sebuah hadits Qudsi dikatakan, “ Aku selalu mengikuti sangka Hambaku, dan Aku selalu menyertai dia dimana dia ingat padaKu, ……..”

Bahkan sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Baihaqi dari Abu Hurairah, “Allah memerintahkan seorang hamba untuk dimasukkan ke dalam neraka. Mendadak ketika sampai di tepi neraka, ia menoleh dan berkata,’ Demi Allah, Tuhanku, tadinya sangkaku padamu sangat baik’. Maka firmanNya,’Kembalikan ia, Aku selalu mengikuti sangka hambaKu.”

Tengoklah sebentar, betapa banyak orang yang tadinya lemah menjadi kuat, orang yang tadinya pedagang kecil menjadi pemilik market, orang yang bahkan tadinya banyak bermaksiat bisa menjadi ustadz, dan dari sebuah kontrakan menjadi sebuah kantor yang megah. Semuanya hanya berawal dari sebuah Optimisme. Semuanya berawal dari hal yang kecil, semua berawal dari penderitaan dan kesusahan.

Karenanya tataplah hari depan dengan tersenyum, dan tinggalkan kesedihan-kesedihan yang hanya akan menghambat kerja dan prestasi kita. Berfikirlah bisa, berfikirlah sukses, berfikirlah positif. Dan percayalah bahwa Allah akan membantu kita.

Mas Edy [[email protected]]
Ditulis habis subuh dari sebuah tempat kost kumuh, tempat saya berharap banyak akan sebuah keberhasilan, kebaikan, dan kemuliaan.
http://masjidits.cjb.net

1 komentar:

  1. Saya ingin menjadi org yg optimis,tdk gampang putus asa,dan memandang hdp saya lbih baek dr hr kmrn,tp bgaimana cranya? Ada yg bsa membantu saya menjadi org yg optimis

    BalasHapus

Artikel mungkin sudah tidak up to date, karena perkembangan jaman. Lihat tanggal posting sebelum berkomentar. Komentar pada artikel yg usianya diatas satu tahun tidak kami tanggapi lagi. Terimakasih :)