Kamis, 02 Agustus 2001

Janji itu, masihkah kita ingat

Futur, hal yang tidak terbayang di benak para aktifis dakwah kala itu. Kala gelora dakwah menggebu-gebu, kala murabbi dan kita bertausiyah bersama, menggapai nikmatnya mabid dan qiyamul lail bersama. para aktivis dakwah SMA begitu bangganya dengan Islam. Izzul Islam wa Muslimin, Khilafah Islamiah, masyarakat Islami, menjadi bagian dari wacana yang selalu saja disusupkan dalam setiap aktifitas kehidupannya.

Buku-buku standar seperti Riyadhus Shalihin, Bulughul Maram, Nailul Authar, tafsir Ibnu katsier tak lepas dari para aktifis, demikian pula buku-buku pergerakan yang kala itu banyak diterjemahkan oleh gema Insani Press menjadi rujukan untuk bahan pelajaran diluar jam sekolah. Majalah sabili, Intilaq, Islah, Ummi, Ash Sholihah, seakan menjadi referensi wajib untuk memandang realitas keterkoyakan ummat.

Kegiatan yang disebut-sebut sebagai kegiatan islami menjadi tema yang tak habis-habisnya. Dengan dimotori oleh SKI beberapa jaringan dakwah telah dibangun dan berbuahlah kegiatan-kegiatan seperti Temu Remaja Muslim dan yang semacamnya.

Beberapa ikhwan dan akhwat bahkan seringkali bersepeda puluhan kilo hanya untuk mengaji. Luar biasa energi yang mereka keluarkan. Dan yang sangat membangggakan seluruh aktifis telah dapat dipersaudarakan dengan Islam yang tiada terkotak oleh madzab dan aliran dakwahnya.

Dan mungkin yang masih teringat adalah sebuah janji bersama, ketika para aktifis berlinangan air mata karena berpisah untuk melanjutkan estafet kehidupan yang musti dilaluinya. Kehidupan bersama dibawah naungan ukhuwah islamiah itu ternyata akan terbatasi oleh jarak dan waktu.

Mungkin masih banyak yang ingat ketika dalam perbincangannya sebuah janji terucap, ' Akh,.... perpisahan kita ini bukanlah akhir segalanya, jalan dakwah yang terpampang di depan kita begitu masih panjang. Kita berpisah untuk sementara, sambil mengais ladang dakwah ditempat kita kuliah dan berkarya. Jika sebelumnya kita aktif di mushala SMA ini, akan kita lanjutkan dakwah ini di masjid kampus insyaallah. Dan selanjutnya semoga Allah akan memberi kita kedudukan yang baik, yang dapat kita jadikan sebagai wasilah dakwah nantinya. Istiqomahlah selalu, Allah akan selalu menjagamu...'

Dan sambil berpelukan berpisahlah para aktifis untuk menjalani aktifitas kehidupannya masing-masing, wsambil membawa cita-cita tingginya. 'untuk kebaikan dakwah' dan untuk membangun ummat yang sudah terkoyak oleh makar kaum kufar.

Waktu terus berlalu, udara kampus membawa banyak aroma yang beraneka. Menyuguhkan banyak janji bagi para penghuninya. Realitas di depan mata mulai agak kelihatan, dan ketakutan-ketakutan terhadap realitas masa depan menjadi hal yang tak mungkin terabaikan.
'Kita memang harus realistis akh................'

Usia makin menanjak naik, sementara tuntutan selalu mengejarnya, dan terkadang janji yang telah terucap menjadi terlupakan. Kebutuhan kita akan pasangan menjadikan kita semakin realistis [??] dengan mengajak kencan rekan kita. Kebutuhan akan hidup, tuntutan perkuliahan yang semakin keras telah banyak menyedot perhatian, yang akhirnya.......... 'Kita telah lama berdakwah, sekarang kan ada giliran selanjutnya, kita kan harus mempersiapkan diri, Regenerasilah...'

Keberhasilan rekan kita alhamdulillah terkadang memicu semangat untuk lebih maju, tetapi tak jarang pula terkadang melupakan idealisme dakwah yang banyak menyita waktu, perhatian, dana, sementara tak ada yang kita dapatkan. Dan jika sudah tiba waktunya timbullah kekhawatiran kita 'Wanita mana yang mau denganmu, dengan bekal seperti itu,......'. 'Lelaki mana yang akan menanyakanmu jika Engkau masih kuper dan ndak bisa bergaul seperti itu'

Akhi,.....lihatlah diri kita dalam cermin, guratan-guratan aktifis masih nampak di wajahmu, tanda hitam keningmu masih mengingatkan, kala kita bersama-sama qiyamul lail di masjid SMA dahulu.

Ukhti, lihat pula dirimu, jilbab yang kau kenakan masih menyisakan kenangan indah waktu bersitegang dengan ayahmu, yang menolak kau kenakan pakaian anggunmu itu. Juga ketika kau bersitegang denagan kepala sekolahmu sewaktu kau tak mau melepas jilbab saat fotomu, dan rekan-rekan ikhwanmu beramai-ramai membelamu.

Ikhwah, masih ingatkan kita saat kita menasehatkan idealisme kita kepada adik-adik kita. Ketika kita mengajarkan membaca Al Qur'an dan mengaji dengan tiada hentinya, yang karenanya bahkan terkadang sakit kita tiada terasa.

Ikhwah, marilah kita ingat kembali masa lalu kita, yang terasa sangat manis untuk kita kenang kembali, yang semoga saja mengingatkan kita, bahwa dahulu kita mempunyai idealisme, dan bahka pernah berjanji kepada rekan-rekan kita, bahwa senantiasa kita akan istiqamah dalam jalanNya

Yaa tuhan kami janganlah Engkau palingkan hati kami setelah engkau beri kami petunjuk........

achedy@yahoo.com
mantan ka Humas JMMI

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Artikel mungkin sudah tidak up to date, karena perkembangan jaman. Lihat tanggal posting sebelum berkomentar. Komentar pada artikel yg usianya diatas satu tahun tidak kami tanggapi lagi. Terimakasih :)